Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

11 Juni, 2009




Agnes Chan







Tahun 72-an kita dikejutkan oleh seorang gadis mungil bernama Agnes Chan yang suaranya bergema hampir di setiap toko kaset. Sebenarnya, bila kita perhatikan, tidak terlalu istimewa juga. Suaranya masih seperti kanak-kanak dan melengking. Lagi pula, lagu-lagu yang dinyanyikannya bukan lagi-lagu baru, tetapi yang sudah banyak dinyanyikan oleh penyanyi lain seperti lagu Nobody's Child (Karen Young), All I Have to Do Is Dream (The Everly Brothers), Day Is Done (Nana Mouskouri), Mother of Mine (Jimmy Osmond) dan banyak lagi. Saya pun tidak begitu tertarik untuk mengoleksi lagu-lagunya.





Tetapi suatu hari, seorang teman pena saya yang tinggal di Hong Kong (tempat kelahiran Agnes) tiba-tiba saja mengirimkan sebuah kaset Agnes yang belum pernah saya lihat disini, yang berjudul "Agnes in Japan". Gambarnya: dengan sweater dan rok semini rok pemain tennis, sepatu olahraga dan kaus kaki mencapai bawah lutut.. Ia memegang bola basket, dengan rambut lurusnya yang panjang, seperti sudah menajdi "trademark" nya.




Saya coba lagu pertama. Wah lagunya cute banget dengan bahasa Jepang yang juga terdengar lucu, tidak sempurna, serta suaranya yang tetap kekanak-kanakan.
Kalau mau tahu lagunya, buka YouTube ini, tetapi disini dia menyanyikannya kembali setelah ia menikah dan punya anak.

http://www.youtube.com/watch?v=SD-6DOh1-xQ&feature=related

Warna suaranya tidak jauh berbeda, dan cara melantunkannya pun seperti itulah, riang gembira, membuat kita yang mendengar lagu dan musik pengiringnya terasa seperti ingin menggoyangkan tubuh.
Sejak dikirimi kaset Agnes in Japan itulah saya mulai tertarik akan kehidupannya, bukan dengan suaranya atau lagu-lagunya.





Bagaimana caranya dengan suara yang tidak tertalu istimewa ini, dia bisa berhasil membuat sukses hampir di seluruh Asia. Suatu prestasi yang mungkin todak semua orang menyangka sebelumnya.
Agnes yang nama lahirnya adalah Chan Mei Ling, bukan hanya sukses di bidang tarik suara, tetapi juga sebagai Doktor Pendidikan, dosen di beberapa universitas di Jepang, seorang penulis essay, penulis novel, Duta Jepang untuk UNICEF.




Agnes Chan mulai menyanyi dan bermain gitar ketika ia memasuki SMP di Hong Kong sebagai sukarelawan penggalang dana. Ia sempat membuat rekaman lagu "The Circle Game" dengan Irene Chan. Lagu tersebut adalah lagu yang biasa dinyanyikan Joni Mitchell yang kemudian menjadi hit di Hong Kong.
Sebentar saja, Agnes menjadi begitu terkenal di Asia Tenggara melalui film-film produksi Chang Cheh, termasuk diantaranya YOUNG PEOPLE dan THE GENERATION GAP.




Seorang penyanyi dan penulis lagu dari Jepang Maasaki Hirao yang terpesona dengan suara Agnes kemudian membawanya ke Jepang tahun 1972. Ia merekam lagu yang menjadi hit yaitu "Poppy Flower".




"Suaranya yang bening, wajahnya yang cantik, dan bahasa Jepangnya yang tidak sempurna, membuat dirinya disebut 'Peri yang datang dari Hong Kong' ", dan segera menjadi idola remaja.





Tahun 1973, rekaman ketiganya muncul: "Splendor in the Grass", yang memperoleh Japan Record Grand Prix "Rockie of the Year".
Agnes memasuki Sophia University di Tokyo, dan kuliah selama 2 tahun. Setelah itu dia memutuskan untuk beristirahat dari kegiatan hiburan dengan maksud meneruskan studinya ke University of Toronto, Kanada dan mendalami bidang psikologi anak.

Tahun 1978 setelah lulus, Agnes kembali ke Jepang untuk meneruskan kembali karir menyanyinya.





Tahun 1879 ia menerbitkan album berbahasa Kanton di Hong Kong. Dan ia memenangkan International Youth Year, 1984. Konser pertamanya di China, untuk dana amal Soong Ching Ling, diadakan tahun 1985 di gedung olahraga Beijing di hadapan 54 ribu penonton.



Agnes dan keluarga besarnya


Pernikahan kakaknya



Kembali ke Jepang bersama ibunya
setelah masa berkabungnya selesai
atas wafat ayahnya


Tahun 1984 kunjungannya ke Etiopia saat kemarau dan kelaparan terjadi di sana, diliput oleh Nippon Television Network pada acara tahunan "24-hour TV". Melalui acara ini dia kembali menggalang dana di samping terus berkarir sebagai penyanyi.





Tahun 1986 Agnes menikah dengan managernya terdahulu, Tsutomu Kaneko, dan melahirkan anak pertamanya Kazuhei (Harmony and Peace) di Kanada. Setelah kembali ke Jepang tahun berikutnya, ia mulai membawa anaknya ke tempat-tempat kerjanya. Hal ini dipandang sangat kontroversial ("Agnes" menjadi bahan omongan orang di Jepang) dan dipertanyakan tentang posisi ibu di dunia kerja.





Tahun 1989, Agnes memulai studi dengan bagian pendidikan di Stanford University. Selama tinggal di USA, ia melahirkan putra keduanya Shohei.

Dengan Myra H. Strober, Agnes menginvestigasi situasi 10 orang lulusan Tokyo University dan Stanford setelah mereka lulus 10 tahun sebelumnya. Hal ini untuk mengetahui perbedaan yang mencolok antara laki-laki dan perempuan di Jepang dan USA. Agnes mendapatkan gelar Ph.D nya, lalu kembali ke Jepang sebagai dosen, dan penulis essay.

Tahun 1998 ia ditunjuk menjadi duta UNICEF yang pertama di Jepang.
Kegiatannya di bidang pendidikan ternyata memberikan pengaruh besar bagi karir menyanyinya - tahun 2000 adalah masa suram untuk kegiatan rekamannya.





Tahun 2002 Agnes mulai menjadi seorang novelist dengan diterbitkannya Perfect Couple dan Bullet Ring.
Lalu tahun 2005 ia merilis lagu "Splendor in the Grass 2005" yang pernah digunakan Asahi Beverages untuk iklan teh di TV. Dan yang terakhir adalah "Flower of Happiness".

Ia memenangkan Pestalozzi Education Award ke 14 yang diadakan oleh Hiroshima University di bulan Oktober.
Album lagu berbahasa Inggrisnya yang terbaru adalah Forget Youself, termasuk duetnya dengan Jackie Chan, dirilis di Amerika pada bulan Pebruari 2006.

Pada bulan Oktober 2007, diberitakan bahwa Agnes telah menjalani operasi kanker payudara di sebuah rumahsakit di Tokyo.



http://www.youtube.com/watch?v=bPQOiC9og7s&feature=PlayList&p=40A56F4B800610C8&playnext=1&playnext_from=PL&index=44

Japanese
http://www.youtube.com/watch?v=u8MN6cFiVA8&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=SD-6DOh1-xQ&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=xP82uKym08o&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=AmvhxrvJO8g&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=kkhU0uugo5M&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=oxhHbGRM9tM&feature=related

Wedding:
http://www.youtube.com/watch?v=jPCmJ4P7N0c&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=_Y4g77Ykuok&feature=related

05 Juni, 2009



Fu Sheng - Chen Nie






Terlahir sebagai Chang Fu Sheng, pada 20 Oktober 1954 di Hong Kong, bintang kungfu Alexander Fu Sheng menjadi pujaan banyak penggemar film-film kungfu tahun 70-an.

Ia anak seorang bisnisman yang kaya raya di New Territories. Sayangnya, semasa mudanya Fu Sheng tidak terlalu suka sekolah, cepat "naik darah", dan suka berkelahi di jalan raya.

Dan karena bisnis keluarga yang mengharuskan orangtuanya berdiam di Hawaii, Fu Sheng memanfaatkan waktu tersebut untuk mulai latihan Judo dan Karate.

Tahun 1971, ia masuk sekolah drama Shaw Brothers. Tak lama, bakat Fu Sheng menarik perhatian Cheung Cheh, seorang pengarah akting. Fu Sheng dilatih selama 6 bulan sebelum memulai pembuatan film petamanya tahun 1972 (The Fourteen Amazons).

Beberapa film andalannya adalah Heroes Two, Five Shaolin Masters, Shaolin Temple, dan The Brave Archer.

Antara tahun 1978 hingga 1979, ia mengalami serangkaian kecelakaan yang menyebabkan luka di tubuhnya. Kecelakaan pertama terjadi ketika shooting film The Deadly Breaking Sword, saat ia terperangkap seutas kawat dan jatuh dengan kepala mendarat di bumi dari ketinggian 8 kaki.

Lalu saat shooting Heroes Shed No Tears, tulang kaki kanannya patah.

Fu Sheng direncanakan memainkan peran dalam Snake in the Eagle's Shadow, tetapi dibatalkan oleh Run Run Shaw pemilik Shaw Brothers Studio yang akan memproduksi film tsb, dnegan alasan yang tidak jelas. Peran tsb kemudian diberikan kepada Jackie Chan, dan tidak disangka, film itu meledak di pasaran.

Fu Sheng berusaha sekuat tenaganya untuk pulih, namun ia tidak pernah sepenuhnya kembali seperti semula.

Karir yang merosot itu dipeburuk lagi oleh pernikahannya dengan Chen Nie (Jenny Tseng) yang penuh dilema. Walaupun mereka membeli dan tinggal di rumah besar dan nyaman milik Bruce Lee di kawasan Kowloon, menurut beberapa sumber, pernikahan itu hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Tanggal 7 Juli 1983, saat ia kembali dari pesta pertunangan seorang teman di Clear Water Bay Golf Club, mobil mewah Porsche 911 Targa yang dikendarai oleh kakaknya mengalami kecelakaan ketika ia melalui sebuah lekukan jalan di Clear Water Bay Rd. dengan kecepatan tinggi. Mobilnya menabrak dinding beton. Fu Sheng dibawa ke rumah sakit dengan luka yang amat parah, dan 3 jam kemudian ia meninggal dalam usia 28 tahun.

Chen Nie atau Jenny Tseng menjadi janda tanpa anak.

Ada versi lain dari kematian Fu Sheng. Setelah bertengkar hebat dengan Chen Nie, Fu Sheng pergi untuk menghilangkan kekesalan hatinya, dan ketika ia ngebut itulah, dikabarkan ia mendapat kecelakaan. Entah versi mana yang benar. Yang jelas, Fu Sheng meninggal dunia hanya beberapa hari sebelum peringatan 10 tahun meninggalnya Bruce Lee, yaitu 20 Juli 1973.

Pemakamannya diatur oleh komite Shaw Brothers yang konon sangat dipadati oleh para tamu, sama seperti ketika Bruce Lee dimakamkan.

Namanya belum sempat dikenal oleh dunia film Amerika karena usianya yang pendek dan kemampuannya yang terbatas di film.

Kabarnya, arwah Fu Sheng sering datang ke salah satu sudut studio Shaw Brothers. Sebuah tempat persembahyangan didirikan disitu untuk menenangkan arwah Fu Sheng.


Documentary about Shaw Bros actor Fu Sheng - With Subtitles
http://www.youtube.com/watch?v=ZV6t2EeHxbw&feature=related



Chen Nie/Jenny Tseng




Dilahirkan dengan nama Cina Yan Suk Si di Koloni Portugis, Macau, 20 Pebruari 1953. Ayahnya seorang insinyur sipil dari Austria, dan ibunya dari Hongkong. Orangtuanya bercerai ketika Jenny berusia masih sangat muda. Sesuai keputuisan pengadilan, Jenny diasuh oleh ayahnya yang kemudian beristri seorang janda berkebangsaan Cina lagi dengan beberapa orang anaknya. Merasa sangat tidak nyaman dengan situasi yang harus dihadapinya, Jenny meninggalkan Macau dan menemui ibu kandungnya di Hong Kong.

Dibesarkan sebagai orang Eropa-Asia, namun besar dengan ibunya yang single-parent di Hong Kong yang konservatif egaliter, Jenny merasa kesulitan. Setelah remaja, ia mencoba menyanyi di tempat-tempat yang tidak berkelas, namun malaikat di speanjang jalan kelihatannya berpihak kepadanya, dan membantu membesarkan namanya...

Kemudian semakin banyak orang mengenalnya dengan sebutan "Jenny". Ia berangkat ke Taiwan dan menjadi penyanyi Mando-pop disana sebelum kemudian ia kembali lagi ke Hong Kong untuk menjadi penyanyi Canto-pop. Namanya kian meluas ke negara-negara di Asia. Namun kesulitan hidup terus membuntutinya ketika dia menghadapi tantangan-tantangan baru termasuk serangan media yang dilancarkan oleh beberapa tabloid yang membesar-besarkan pedasnya kritik publik atas gosip hubungan serta pernikahannya yang 'bak dongeng dengan si tampan Alexander Fu Sheng.





Tidak seperti pernikahan Bruce Lee, Jenny dikabarkan telah membangkitkan amarah publik pencinta bintang Kung Fu ini karena sebagai istri, Jenny sangat berkuasa, eksploitatif serta memberi tekanan terhadap sang suami hingga berakhir pada kematian Fu Sheng di mobil Porsche 911-nya walaupun secara fisik Jenny memang tidak hadir di tempat kejadian, dan tidak bertanggungjawab atas kematian suaminya itu.

Namun media membeberkan bahwa kelakuan Jenny-lah (sebagai istri) yang secara tidak langsung memberi tekanan terhadap suaminya yang sedang gemerlap menjadi bintang hingga Fu Sheng diduga mengalami kecelakaan itu ketika sedang mabuk sebagi cara yang biasa dilakukan oleh ornag yang tengah dalam kepedihan atau kekecewaan berat.

Jenny ditinggal mati tanpa anak, namun tahun 1987 , ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Melody. Hingga saat ini, entah mengapa, Jenny menolak memberi nama keluarga ayah untuk Melody ini. Dia malah berkata bahwa hubungannya dengan Melody lebih sbeagai teman daripada ibu-anak.

Setelah tragedi itu, janda muda Jenny sekali lagi tertantang untuk terus menjalankan lembar kehidupannya dengan apapun keterampilan yang dimilikinya, dalam dan luar negri, secara pribadi maupun terbuka di masyarakat.

Suaranya yang sangat saya sukai, memang berbeda dengan penyayi Mandopop atau Cantopop lainnya. Khas, kuat, dengan vibration yang enak didengar, nada paling rendah dan paling tinggi yang dapat dicapai dengan manis... Banyak lagi!

Salah satu yang sangat saya suikai adalah lagunya yang digunakan sebagai tema film "
A Walk in The Rain" dengan bintang Chin Hsiang Lin, sekitar tahun 74-75. Di sini terdengar nyanyiannya sangat pilu... membuat orang yang mendengarnya ikut larut dalam kesedihan itu. Ada pula film Lang Hua (Rhyhtm of the Waves) bersama Chin Han. Ceria lagunya, membuat kita juga terbawa dalam keriangan. Juga bersama Roman Tam berduet dalam Legend of the Condor Heroes versi 1982.



Jenny juga dianggap sebagai seorang penyanyi tahun 60-70- dan 80-an yang seringkali disejajarkan dnegan rivalnya seperti Teresa Teng dan Fong Fei Fei.

Akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktunya mengelola suatu perkebunan milik sendiri di Tao Yuan, Taiwan, tetapi sudah mempunyai rencana mengadakan tur dunia pada musim gugur 2009 ini.


http://www.youtube.com/watch?v=iXQyhcv_JRE&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=Ez4swboEMdk&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=x2vv_o_xoPc&feature=related


28 Mei, 2009



Pecun dan Bacang





Hari ini sebagian orang keturunan Tionghoa yang masih memelihara tradisi dan budaya nenek moyangnya, memperingati hari Pecun yang ditandai dengan BACANG.

Tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama apapun. Hanya tradisi.

Sebelum saya menulis lebih lanjut, kita simak dulu artikel pada Lampung Post tentang peringatan Pecun ini:


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Bacang, Membangkitkan Kepercayaan

YANG tepercaya justru tidak dipercaya akibat hasutan kepentingan golongan. Yang benar justru tergusur. Fenomena itu terjadi sejak zaman dinasti di Tiongkok--mungkin sampai sekarang pun masih terjadi.

Kalau di zaman Dinasti Ming, sastrawan Qu Yuan juga dikenal sebagai menteri yang tepercaya dan setia, menolak konspirasi menjatuhkan kerajaan Chu yang digagas rekan-rekannya. Namun, ia justru dibenci.

Niatannya membantu sang raja yang sakit, malah dituduh meracuni sang raja. Akibatnya, Qu Yuan frustasi dan memilih bunuh diri di Sungai Mi Lou.

Hal itu segera diketahui rakyat, kemudian mereka berbondong-bondong berusaha menyelamatkan orang tepercaya itu dengan kapal sambil melempari bacang. Hal itu kemudian menjadi tradisi yang bertujuan untuk mengenang kebenaran, kepercayaan, dan kesetiaan. Tradisi itu disebut Peh Cun atau Perayaan Bacang.

Kalau menengok tradisi atau sejarah, rasanya hikmah perayaan Bacang amat pas dengan kondisi di negeri tercinta saat ini. Tengoklah kondisi kita yang kian carut-marut dengan merebaknya korupsi dan kemungkaran di sana sini.

Justru yang orang yang berbuat baik, jujur dan dapat dipercaya, kerap menjadi sasaran tembak dan dibilang biang kerok karena jumlah mereka yang amat sedikit. Hal ini juga yang membuat antipati masyarakat akan hukum dan keadilan yang berlaku di negeri ini.

Namun, kalau mau melihat pada esensi nurani, tentunya kita semua berharap bahwa kebenaran adalah nomor satu yang harus dikedepankan. Dan momen Perayaan Bacang bisa menjadi contoh buat kita semua untuk mengedepankan kebenaran dan menjadi tepercaya. n SRI AGUSTINA/L-1

(http://www.lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2008060514440249)


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Banyak sih versi legenda Bacang, seperti juga legenda-legenda perayaan tradisional Tionghoa lainnya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi pada zaman Dinasti Zhou. Tapi inti legendanya sama: Qu Yuan bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo.


Salah satu legenda menyebutkan bahwa Qu Yuan bunuh diri karena ia kecewa terhadap sang raja yang tidak peduli dengan urusan negara, tetapi hanya dengan bermabuk-mabukan dan wanita-wanita penari atau penghubur saja. Kekecewaan dan rasa malunya terhadap apa yang dilakukan raja, maka ia berkeputusan untuk meninggalkan tugasnya sebagai menteri dengan bunuh diri di Sungai Miluo. Saat itu, mendengar kabar bunuh dirinya sang menteri, rakyat yang bersimpati kepadanya berduyun-duyun datang ke Sungai Miluo membawa bacang (yang memang makanan umum masyarakat) untuk dilemparkan ke dalam sungai agar perhatian mahluk-mahluk di dalamnya teralihkan sehingga mereka tidak memakan jenazah Qu Yuan, tetapi memakan bacang.

Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai perayaan Pecun atau Duan Wu.

Ada lagi legenda yang menceritakan bahwa masyarakat saat itu percaya bahwa di dalam sungai hiduplah seekor naga besar. Agar dia hidup tenteram, dilemparkannyalah bacang untuk disantap sang naga.

Itu sebabnya pada peringatan Pecun di beberapa negara selalu diadakan Festival Perahu Naga yang biasanya jatuh pada hari ke lima, bulan ke lima kalender Tionghoa.

Apapun legenda yang kita dengar, entah memang peristiwa itu terjadi demikian atau tidak, BACANG selalu saja menjadi penganan yang cukup mengenyangkan dan juga tidak pernah kehilangan kepopulerannya.

Jaman saya kecil dulu, tidak ada dijual di pasar-pasar atau toko kue. Dua puluh tahun terakhir ini, kita mudah sekali mendapatkannya. Dan ingin menyantapnya, tidak perlu menunggu perayaan Pecun datang. Setiap hari selalu tersedia bacang yang segar.

Dalam kuliner Cina, bacang disebut Zongzi atau Zong saja, yang aslinya terbuat dari beras ketan yang diisi dengan daging (yang kemudian juga sayuran terutama bagi mereka yang vegetarian),
dibungkus dengan daun bambu lalu dimasak dengan cara dikukus atau direbus. Secara tradisional, pemasakan memakan waktu hingga berjam-jam. Dengan teknologi Pressure Cooker atau Panci Tekan, cukup 45 menit saja. Sungguh menghemat waktu dan bahan bakar, serta tenaga.

Bukan hanya beras ketan saja yang dipakai kemudian, tetapi juga beras biasa sehingga tidak begitu lengket. Yang banyak dijual di pasar dan menjadi selera umum adalah bacang beras biasa (disebut: Bacang Nasi). Umumnya memang daun bambu sebagai pembungkusnya, tetapi ada beberapa yang suka membungkusnya dengan daun pisang (untuk mendapatkan efek kehijauan pada nasinya dan aroma daun pisang yang dianggap lebh baik daripada aroma daun bambu)

Selain itu, daun pisang juga digunakan karena praktisnya, dibandingkan dengan daun bambu yang sebelum digunakan memerlukan penanganan lebih rumit: daun direbus dahulu, digosok satu sama lain untuk menghilangkan bulu-bulu yang ada pada helai daun. ditiriskan di bawah matahari, dan setelah kering baru bisa digunakan untuk membungkus.

Selain daun bambu dan daun pisang, juga banyak yang menggunakan daun teratai, daun andong, daun puspanyidra (tasbe), daun jagung, daun pohon jahe, dan juga daun pandan. Tentu saja untuk daun-daun berpelepah sempit, diperlukan beberapa lembar dan diatur agar lebarnya cukup untuk membungkus sebuah bacang. Setiap daun memberikan aroma tersendiri.

Tali pengikat.
Jaman dahulu ketika tali rapia atau tali plastik belum ditemukan, dipakai tali serat pisang atau tali agel. Jaman sekarang, tali plastik lebih mudah ditemukan dan harganya pun jauh lebih murah karena dibuat secara masinal, sedangkan tali serat pisang atau tali agel membutuhkan proses yang lama dan hasil produk sangat terbatas.


Isi Bacang bervariasi, tapi yang sangat umum adalah daging (apa saja). Cara memasak Isi bacang ini pun berbagai macam sesuai dengan selera dan adat setempat. Daging dengan sedikit daun bawang dan kecap manis (ini yang disebut Bacang Nonya di Malaysia dan Singapura). Ada pula yang dicampur jamur, lakchi, biji teratai, telur asin dsb. dengan kecap asin (Biasanya menjadi kesukaan orang-orang Tionghoa yang masih "totok"). Bahkan ada yang berisi pasta kacang merah manis dengan kacang (biasanya untuk kaum vegetarian).

Bentuk bacang juga bervariasi, ada yang bersudut 4 seperti umumnya yang kita lihat, hingga berbentuk silinder.

Di Jepang, bacang disebut Chimaki. Di Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam disebut bánh tro, sedangkan di dunia barat disebut Chinese Tamales atau Chinese Rice Dumplings.

Bacang yang seperti apa yang menjadi kegemaran Anda?





27 Mei, 2009




Andrea Bocelli





Para penggemar musik tentunya tidak asing lagi dengan nama Andrea Bocelli.
Penyanyi Tenor berkharisma (justru karena ia tuna netra) ini sebegitu mendunianya sehingga setiap kali tampil LIVE, selalu saja bangku dipenuhi oleh penggemar dan pemujanya.
(Tapi belum pernah datang ke Indonesia nih?? Kalah oleh Il Divo !)





Bocelli lahir tanggal 22 September 1958 di Lajatico, Tuscany, Italia, kurang lebih 40 km sebelah selatan Pisa. Ayahnya, Alessandro Bocelli dan ibunya Edi, adalah keluarga petani.



Bagaimana mungkin Andrea Bocelli kecil
yang lucu ini kelak akan kehilangan
penglihatannya seumur hidup?



Sejak dilahirkan, Andrea tampak mengalami masalah dengan penglihatannya. Orangtuanya berusaha mendatangi dokter-dokter ahli untuk mendiagnosa penyakit Andrea kecil. Ternyata diketahui bahwa ia menderita glaucoma, dan tahun 1870 ketika usianya mencapai 12 tahun, matanya buta total, yaitu sesaat setelah kecelakaan yang menimpanya ketika sedang bermain bola.

Sejak berusia 6 tahun, Andrea mulai belajar memainkan piano, juga flute, saxophone, terompet, trombone, harpa, gitar, bahkan drum. Ia juga senang menyanyi.





Di hari-hari yang menyiksa sejak ia kehilangan penglihatan itu, menurut Edi sang ibu, hanya musiklah yang menjadi penghibur hatinya.

Ketika berusia 14 tahun, ia mengikuti dan memenangkan perlombaan menyanyi dengan lagu yang dilantunkannya: O Sole Mio. Ia tetap belajar di sekolah dan setelah lulus SMA tahun 1980, ia belajar Ilmu Hukum di University of Pisa. Setelah lulus, sempat menjadi seorang pengacara di sebuah pengadilan selama satu tahun. Sore harinya ia mencari nafkah dengan menjadi pemain piano di bar-bar.




Tahun 1987, ia berjumpa dengan Enrica yang kemudian dinikahinya pada 22 Juni 1992 dan memberinya dua orang anak: Amos (1995) dan Matteo (1997). Sayangnya pernikahan yang semula bahagia itu harus hancur tahun 2002 dengan ditandai oleh perceraian.





Kemudia ia berjumpa dengan Veronica Berti, seorang wanita yang tidak akan dinikahinya walaupun mereka sudah bertunangan, karena Andrea seorang Katolik.





Pasangan ini tinggal di Forte dei Marmi, di sebuah villa di tepi pantai, sedangkan istri pertama dan kedua anaknya tinggal di rumah lamanya, di dekat Pisa.

Ayah Andrea meninggal 30 April 2000. Saat itu ibunya mendesak Andrea untuk memberi penghormatan kepada mendiang ayahnya dengan menyanyi bagi Paus di Roma tanggal 1 Mei, dan segera kembali ke Pisa untuk menghadiri pemakaman sang ayah.

Andrea selalu ingat aka kata-kata ayahnya ketika ia mengalami kebutaan:
"Orang lain melihat keindahan dengan matanya, tapi kamu melihat itu dengan hatimu". Kata-kata yang diingatnya telah memberikan begitu besar kekuatan untuk tidak "ambruk" hanya karena cacat mata, tetapi mendorongnya untuk terus berkembang dan berprestasi.

Prestasi demi prestasi menuju puncak karir telah dilakukannya, sesuai harapan ayahnya, hingga ia seolah-olah bukan hanya milik Italia, tetapi milik semua bangsa di dunia.



dengan Katharin McPhee


Akan halnya kemashyuran yang dimilikya, Bocelli tetap mendapat kritikan keras terutama dari Bernard Holand dari New York Times, serta Andrew Clement dari The Guardian tetang kualitas vokal Andrea.

Mereka menunjukkan titik-titik lemah Andrea, yaitu: pengucapan frasa yang tidak jelas, irama yang kadang sumbang, serta tidak menguasainya teknik menyanyi secara benar.

Lalu kritikus Anthony Tommasini dari New York Times juga mengatakan:
"Warna dasar suara Bocelli hangat dan menyenangkan, namun ia kurang menguasai teknik untuk mendukung suaranya itu. Not yang dinyanyikannya terdengar sumbang, ketinggian vocalnya terdengar lemah. Kontrol nafasnya yang tidak baik seringkali membuat ia segera memutuskan tarikan suaranya pada not tinggi sebelum frasa berakhir".





Desember 2000 Tommasini mengeritik lagi untuk album La Boheme. Katanya, Bocelli masih tetap bermasalah dengan hal-hal dasar seperti pengaturan nafas yang tetap buruk, sehingga diperlukan "teknik merekam yang sangat hati-hati" untuk membantu menyeimbangkan suaranya dengan suara latar yang sudah terlatih baik.

Bernard Holland mengatakan, bahwa pada dasarnya Andrea Bocelli bukan penyanyi yang begitu baik. Dan Assiociated Press bahkan mengeluarkan pernyataan:

Passion? Yes.
Power. No






Ada lagi seorang kritikus musik dari New Yok Times yang mengatakan bahwa Andrea menyanyi tanpa ekspresi.... (Orang buta disuruh memperlihatkan ekspresi, bagaimana ya???? Lalu bagaimana pula dengan Ray Charles, pianis dan penyanyi buta dari Amerika? Apakah ia menyanyi dan main piano dengan ekspresi?)

Yah, banyak lagi kritik-kritik pedas yang dilemparkan kepada penyanyi kharismatik ini, termasuk yang mengatakan bahwa dibandingkan Luciano Pavarotti, Andrea jauh dibawahnya.

Apapun yang dikatakan, ternyata semakin banyak orang menghadiri pertunjukan-pertunjukan Andrea Bocelli ini. Saya harus puas dengan hanya menikmati lagu-lagunya melalui DVD saja.



http://www.youtube.com/watch?v=kCrWxKoOhH8&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=tcrfvP11Hbo
http://www.youtube.com/watch?v=YbGKQ8YASCY&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=gPRESlT4Ccg&feature=related


(Materi dan gambar disusun dari berbagai sumber)




Hans Christian Andersen






Beberapa waktu lalu saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi Solvang, "Little Denmark" di Santa Barbara, California, untuk kedua kalinya. Tidak banyak yang berubah, hanya musim ketika saya berkunjung pertama kali tahun 2005, berbeda dengan musim ketika berkunjung hampir dua bulan yang lalu, April 2009.

Kalau pada tahun 2005 saya dan keluarga datang mendekati musim gugur, dan pemandangan yang terlihat hanya tumbuh-tumbuhan yang kehilangan banyak daun dan bunganya maka yang terakhir ini kami datang musim semi. Pas.... aneka bunga indah sedang "full-bloom", mengundang rasa untuk mengabadikan suasana tersebut di berbagai lokasi.



Selain itu, kunjungan kami ke Solvang ini tidak dalam rangka "organized tour" seperti yang sebelumnya, yang terasa begitu "diburu-buru" oleh tour leadernya. Kali ini kami pergi sendiri dengan Ika, my niece, yang dengan "smart"nya membawa kami kesini, padahal Ika sendiri, katanya, belum pernah berkunjung ke sini! (walaupun sudah belasan tahun tinggal di U.S.) Hehehe...
Hal ini memberi kami kebebasan untuk berlama-lama menikmati Little Denmark yang "cute 'n pretty" ini!


Vas-vas bunga di sepanjang jalan
dan setiap pojok.


Solvang adalah salah satu komunitas di Santa Ynez Valley dengan populasi "hanya" 5332 sesuai sensus tahun 2000. Ditemukan tahun 1911 oleh sekelompok orang dari Denmark yang pergi ke barat untuk menghindari musim dingin ekstrim. Tanah ini semula adalah tanah masyarakat Spanyol yang luasnya 36 km persegi.



Tempat ini digunakan para pendatang dari Denmark tersebut untuk berdagang, membuka bisnis restoran atau bakery yang menawarkan segala macam barang atau kuliner Denmark di California. Arsitektur sebagian besar bangunan disini tentu saja mengikuti gaya Denmark.



Kami memasuki "ACE Hardware" yang mungkin belum begitu lama berdiri (karena pada kunjungan pertama tahun 2005 itu kami belum melihatnya). Ada yang khusus di dalam Ace Hardware Solvang ini, yaitu sebagian besar barang yang ditawarkan adalah segala kebutuhan atau alat perkebunan (gardening) dan rumahtangga. Bahkan pada pelataran yang cukup luas, dijual pula berbagai macam bunga indah yang jarang kita temui di Indonesia, termasuk tanaman bunga gantung yang cantik-cantik dan beraneka warna. Rasanya tidak ingin kita beranjak dari tempat ini!

Tidak jauh dari tempat ini terdapat replika patung "Little Mermaid" yang amat terkenal di kalangan anak-anak di seluruh dunia. Kisah ini dan kisah-kisah sejenis lainnya yang selalu dimulai dengan:
"Once upon a time"........... atau
"Pada jaman dahulu kala"............ :))


Replika patung The Little Mermaid
di Denmark Square, Solvang, CA
selesai dikerjakan tahun 1991.


Patung asli The Little Mermaid terdapat di Copenhagen, di pelabuhan Langelinie. Patung yang relatif kecil di tepi pelabuhan yang luas ini tampak tidak menonjol, namun ia adalah icon kota Copenhagen yang paling banyak menarik perhatian turis lokal maupun mancanegara. Mereka merasa surprised karena patung ini hanya setinggi 1,25 meter dan beratnya 175 kg.


Patung asli Little Mermaid di Copenhagen


Patung aslinya ini dihadiahkan oleh Carl Jacobsen, salah seorang putra dari pemilik industri bir dan minuman ringan Carlsberg. Carl Jacobsen begitu terpesona oleh tarian balet yang menceritakan tentang putri duyung yang jatuh cinta pada manusia ini, ketika ia menyaksikannya di Copenhagen's Royal Theater, hingga ia memohon kepada si penari balet prima, Ellen Price, untuk bersedia menjadi model dari patung yang ingin ia buat dan hadiahkan kepada kota Copenhagen.

Pematungnya, Edward Eriksen, mulai membuat patung dengan wajah Price sebagai model, namun si balerina tidak bersedia telanjang untuk diambil sebagai model bagi tubuh sang putri duyung... Eriksen akhirnya menggunakan tubuh istrinya sendiri, Elina Eriksen, untuk menyelesaikan patung The Little Mermaid itu.



Lalu siapakah tokoh The Little Mermaid yang mungkin lebih dikenal di dunia anak-anak?
(Kita pernah menjadi anak-anak, dan setidaknya pernah atau sering mendengar kisah ini, kalau pun tidak berkesempatan membacanya). Ia dikisahkan sebagai ikan duyung, yang dalam fairy tales, bagian kepala hingga tubuh berbentuk tubuh manusia, tetapi bagian kaki menyerupai ikan.

Ia bersedia melepaskan kehidupan dasar lautnya sebagai putri seorang Raja Laut demi mencapai keinginannya mendapatkan cinta seorang pangeran manusia tampan yang dilihatnya di sebuah kapal. Saat itu Little Mermaid berusia 15 tahun, saat ketika dia diijinkan ayahnya untuk berenang ke permukaan laut guna melihat dunia manusia.

Kita semua sudah tahu bagaimana jalan cerita selanjutnya dan akhir dari cerita itu. Biasanya "Happy ever after". Tapi Duyung Kecil ini harus menerima kenyataan bahwa dunianya dengan dunia pujaan hatinya memang berbeda, dan berkeras ingin hidup dalam alam manusia hanya akan menyakiti tubuh dan hatinya, apalgi ketika sang pangeran menikahi putri raja lain.

Kisah yang terus hidup ini ditulis oleh Hans Christian Andersen. Cerita khayali seperti itu membuat pembacanya ikut larut berkhayal mengikuti kisah yang ditulisnya.


Patung H.C Andersen di Solvang


H.C Andersen adalah seorang anak dari keluarga miskin yang meninggalkan desanya, Odense, sebuah kawasan kumuh di Denmark saat itu, ketika ia berusia 14 tahun. Cita-citanya yang besar ("menjadi orang terkenal") membawanya ke Copenhagen. Anehnya, sang ayah, Hans Andersen merasa dirinya masih memiliki darah bangsawan walaupun sebenarnya ia hidup miskin sebagai seorang pembuat sepatu yang buta huruf. Ibunya, Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.



Kemiskinannya ini membuat H.C Andersen tidak bisa mengenyam bangku sekolah dan sangat percaya takhyul. Namun sang ibu telah membantunya berkenalan dengan cerita-cerita rakyat dan ayahnya yang juga mencintai cerita-cerita rakyat kerap membawanya menonton pertunjukan sandiwara sehingga kemudian Andersen menjadi akrab dengan dunia cerita dan sandiwara.

Mengenai ayahnya, ia menulis otobiografi yang berjudul The True Story of My Life (terbit tahun 1846) dan disitu ia mengatakan, "Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan bercerita tentang dongeng. Hanya pada saat-saat seperti inilah aku melihat dia begitu riang, karena sesungguhnya ia tak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai seorang pengrajin sepatu".

Sikap dan pengalaman dari orang tua itulah yang membuat H.C. Andersen tertarik dengan dunia mainan, cerita, sandiwara termasuk karya William Shakespeare.

Pada tahun 1816 ayah H.C Andersen meninggal.

Dan sosok Ibu kelak sempat dilukiskan dalam berbagai cerita yang ditulisnya, misalnya dalam cerita yang diberi judul Hun Duede Ikke. Sang Ibu tidak dapat melihat sukses anaknya di kemudian hari karena konon wanita yang amat berjasa dalam hidup H.C Andersen ini menjadi seorang pemabuk berat dan meninggal pada tahun 1833.

Alkisah, H.C Andersen muda pergi ke Copenhagen, berharap menjadi seorang aktor, penyanyi atau penari. Tiga tahun di kota itu, ia menjalani kehidupan yang sulit, namun sudah dapat mulai mengenyam pendidikan sekolah.

Awalnya, Andersen sempat berhasil bergabung dengan Royal Theater. Tetapi ketika suaranya berubah karena masa pubertas, ia terpaksa meninggalkan panggung sandiwara. Andersen kemudian meninggalkan peran sebagai aktor dan penyanyi. Ia merasa lebih tepat ditunjuk sebagai penyair. Anderson mecoba menjadi seorang penulis sandiwara. tetapi sayang, semua karyanya ditolak dimana-mana.

Suatu saat ia bertemu dengan Raja Hendrik VI, Raja Denmark, yang tertarik oleh penampilan Hans muda. Sang Raja bahkan mengirimnya ke sekolah formal. Ia dapat belajar bahasa di Slagelse dan Elsinore sampai tahun 1937. Sebelumnya, tahun 1835 ia berhasil menerbitkan berbagai cerita yang telah berhasil ditulisnya dalam jilid-jilid kecil.

Di sekolahnya, ia tidak begitu berprestasi, dan karenanya merasa sangat tidak nyaman berada ditengah teman-teman sekolah yang usianya enam tahun lebih muda dari dirinya. Kepala sekolahnya mengatakan bahwa karakter pemuda ini sangat sensitf dan sukar ditebak. Teapi ia berhasil menyelesaikan sekolah bahasanya yang kemudian melanjutkan ke Universitas Kopenhagen.

Andersen juga menuangkan kisah pribadinya dalam kumpulan puisi berjudul "Phantasier og Skisser" saat ia jatuh cinta pada Riborg Voigt yang tidak menyambut cintanya.

"Aku benar-benar ingin mati saja", ujarnya. Ia mencurahkan rasa sedihnya dalam puisi "The Sorrows of young Werther".


Walaupun novel-novelnya mendapat sambutan besar, nama Hans Christian Andersen di dunia justru menjulang sebagai penulis dongeng anak-anak. Ia membuat banyak anak di dunia bahagia dengan cerita-ceritanya, seperti:


The Princess and The Pea,



The Little Mermaid



The Ugly Duckling



Thumbelina



The Snow Queen



The Wild Swans
dan masih banyak lagi.

Kenikmatan akan kemasyurannya ternyata tetap membuatnya hidup dalam kesepian yang berkepanjangan hingga akhir hayatnya.
Seringkali "Kasih Tak Sampai" dialaminya terhadap wanita-wanita yang membuatnya jatuh cinta. Ia menulis "The Nightingale" sebagai curahan rasa cintanya terhadap seorang selebriti dan penyanyi Swedia: Jenny Lind, namun tetap saja cintanya itu tidak berbalas. Banyak yang menduga, H/C Andersen terlalu pemalu dan seringkali menemukan kesulitan kala dia ingin mengucapkan isi hatinya langsung kepada wanita yang membuatnya jatuh cinta.

Di dalam diarynya ditemukan ungkapan rasa ketidak-berdayaannya:
"Almighty God, thee only have I; thou steerest my fate, I must give myself up to thee! Give me a livelihood! Give me a bride! My blood wants love, as my heart does!"

Sepanjang hidupnya ia tidak pernah menikah, juga tidak pernah punya rumah. Sejak kecil hingga akhir hayatnya, ia selalu hidup di rumah para patron (tokoh masyarakat) yang kaya raya. Jika tidak, ia tinggal di kamar sewaan dengan perabot yang minim atau di hotel. Tetapi jika tidak sedang dalam perjalanan, ia pasti tinggal lama di rumah orang-orang yang cukup baik hati mengundangnya.

Andersen meninggal dunia di Rolighed, dekat Copenhagen, 14 Agustus 1874. Di tempat peristirahatannya yang terakhir, H.C. Andersen hanya ditemani oleh guru sekaligus sahabatnya, Jonas Collin, yang dimakamkan bersebelahan dengannya.




Museum Hans Christian Andersen
di Little Denmark,
Solvang, CA



(dari berbagai sumber)