Tampilkan postingan dengan label Photos: India. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photos: India. Tampilkan semua postingan

30 Maret, 2009




Karpet Indah India






Rumah akan bertambah indah bila di bagian ruang tertentu diberi karpet. Benda ini seolah menambah keanggunan suatu ruang (terutama ruang tamu) dan terkesan mewah. Tidak heran karena kita melihat karpet-karpet indah di banyak rumah di Eropa, apalagi rumah-rumah klasik milik para bangsawan dan orang-orang kaya. Bukan hanya karpet di ruang tamu atau ruang tidur, bahkan di semua ruang, atau wall-to-wall carpet.

Tetapi terus terang, saya tidak pernah menjadi pencinta karpet sejak saya tahu bahwa karpet merupakan tempat hidup kuman yang amat baik. Mata kita tidak mampu melihat kuman sekecil itu, dan kita menganggap karpet tetap/selalu bersih. Pada suatu film dokumenter, diperlihatkan suatu area karpet yang diperbesar jutaan kali, betapa banyak dan mengerikannya bentuk-bentuk mereka yang dengan bebas berjalan, keluar masuk di antara benang. Dan dikatakan oleh para ahli kesehatan, bahwa bila kuman-kuman yang super kecil itu terhirup oleh orang yang alergi, maka mereka bisa menimbulkan masalah pada kulit atau pernafasan. Karena itu dianjurkan untuk tidak menggunakan karpet di rumah apalagi bila ada bayi atau anak kecil serta orang yang sudah lanjut usia.

Tetapi rasa penasaran terhadap pembuatan karpet ketika kami berada di New Delhi, membawa kami ke sebuah pusat pengrajin karpet. Memasuki tempat itu, segera terlihat banyak alat pintal. Juga tangan-tangan terampil yang mengerjakan karya seni itu.





Benang wool warna warni di tangan para pengrajin berubah menjadi lembaran-lembaran karpet yang amat indah.

Ada beberapa tahapan pembuatannya. Selesai dipintal, ujung-ujung benang pada bagian belakang karpet digunting dengat teliti.





Lalu dibakar dengan teknik khusus, yang dimaksudkan agar susunan benang yang dipintal menjadi kuat atau stabil.







Seni karpet India sebenarnya terinspirasi oleh pengrajin karpet Persia yang memang begitu terkenal di dunia, terutama Eropa.

Karpet India mengalami jaman keemasan ketika Dinasti Mughal berkuasa. Teknik dan desain serta bahan wool yang digunakan sejak awal abad 16 ini dibuat dengan begitu banyak "knot" sehingga tampak halus. Bila disentuh, begitu lembut. Konon karpet untuk para kaisar seperti Shah Jahan adalah karpet dengan mutu paling baik.

Sekarang ini, desain bukan hanya dari seni Mughal tetapi sangat bervariasi. Kalau karpet Eropa banyak mempunyai desain konvensional, atau Cina dengan desain bunga, maka karpet India mencakup semuanya termasuk juga desain binatang.

Harga karpet tentu saja tergantung dari desain dan benang yang digunakan. Foto-foto di bawah ini adalah tahapan Deki menawar harga karpet bulat kecil. Tidak niat beli, kok malah beli!




Deki sedang mendengarkan penjelasan manager
tentang karpet bulat kecil di lantai
yang diperuntukkan sebagai taplak meja
(tapi hingga kini tidak pernah saya buka
dari kemasannya..., tidak pernah digunakan)



Seorang petugas mengemas karpet





01 Maret, 2009


Stone Inlay Table Tops
Seni "Mughal"



Daun meja marmer bertahtakan berbagai macam
batu hias yang dibuat dengan
ketetampilan dan tingkat ketelitian
serta akurasi yang amat tinggi.


Kebetulan saja, karma baik membawa saya ke suatu tempat bernama Agra, India.

Begitu kaya dengan hasil seni. Salah satu yang menonjol dan sangat populer adalah Seni "Mughal", seni yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil yang menanam berbagai jenis batu semi-permata seperti: malachite, mutiara, agnate, batu-batu semi permata Itali dsb, ke dalam lempengan marmer, baik yang polos putih, hitam atau yang agak sedikit bermotif.

Pada beberapa desain, sehelai kelopak bunga, misalnya, memiliki 200 batu semi-permata ini yang di tanam ke dalam marmer di mana desain bunga dibentuk.


Luar biasa keterampilan dan ketelitian mereka yang membuatnya!

Penggosokan batu semi-permata
yang akan digunakan
dengan alat yang cukup sederhana.



Seni ini diturunkan oleh nenek-moyang mereka, yaitu para pengrajin di jaman pembuatan Taj Mahal dan Fatehpur Sikri. Sekarang ini, keturunannya melanjutkan seni tersebut dan desain yang mereka ciptakan juga semakin beraneka ragam.



Permintaan pasar dunia membuat pengrajin benda seni ini hidup terus.


Taj Mahal dan Fatehpur Sikri adalah dua bangunan yang menggunakan seni ini, yang unik dan eksklusif.

Daun meja bertahtakan batu semi-permata ini dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran serta desain tentunya sesuai dengan berbagai peruntukannya, bisa meja makan, meja kecil tempat minum teh/kopi, meja tamu, meja sudut, meja kantor untuk rapat, bahkan meja untuk bermain catur yang tentu saja motifnya adalah motif papan catur, dll.

Setelah memanjakan mata melihat-lihat daun meja yang indah-indah dan mahal itu, tiba-tiba saja saya melihat ruangan berisi berbagai patung dan benda hias lain yang juga dibuat dalam seni Mughal ini.

Saya kagum pada sebuah patung Buddha terbuat dari marmer hitam, dengan tubuh berhiaskan berbagai macam batuan cantik. Seolah tahu akan rasa kagum saya, my dear hubby serta-merta menawarkan apakah saya ingin membawa Buddha cantik itu ke rumah kami...




So pasti saya jawab mau!! Padahal harganya cukup mahal, dan cukup berat!! Bagaimana nanti mengemas dan membawanya ke Indonesia melalui New Delhi Airport yang sibuk dan ketat itu, adalah hal yang tampaknya bisa dipikirkan kemudian!

Akhirnya lolos juga patung ini. Dan sekarang sudah menempati rumah kami selama hampir 6 tahun! Setiap kali memandangnya, bukan hanya saya bersyukur bisa memilikinya, dan mengingatkan saya akan ajaran-ajaran Sang Buddha, tetapi juga tak pernah berhenti mengagumi tangan terampil orang Agra yang membuat seni "Inlay" permata Mughal ini...



14 Desember, 2008

Temple of Khajuraho

Temple of Khajuraho

Kuil ini terletak di Madhya Pradesh, di distrik Chhatarpur, kira-kira 600-an km dari Delhi. Populer karena pahatan erotiknya. Memang indah sekali, tapi lama-kelamaan pusing juga lihatnya, apalagi kalau full concentration pada setiap figur yang ada pada pahatan dinding. Aduh mak! Lieur! Di bagian dalamnya yang berdekatan dnegan tempat pemujaan para dewa/dewi, tidak ada pahatan atau ukiran yang menampakkan kegiatan seksual. Hal ini menggambarkan bahwa untuk menemui para dewa/dewi, orang harus meninggalkan nafsu seksualnya di luar kuil. Juga menunjukkan bahwa dewa dalam kuil adalah suci bagaikan atman yang tidak terpengaruh oleh nafsu seksual serta penampakan fisik. Ukiran atau pahatan erotis yang ada di luar menggambarkan manusia, tubuh manusia, perubahan yang dialami tubuh manusia, serta fakta-fakta hidup. Kira-kira 10% dari ukiran mengandung tema seksual antar manusia. Yang lainnya menggambarkan sisi kehidupan nyata manusia sehari-hari.

Banyak yang menyebut kuil ini sebagai Kuil Kamasutra.


Menurut cerita, kuil ini dibangun dari tahun 950 sampai dengan 1050. Ada 80 kuil Hindu dan Jain. Anehnya, kata guide kami, ketika Islam masuk India, ketika banyak kuil Hindu dan Buddha dihancurkan, kuil-kuil di Khajuraho Temple ini malahan tidak mengalami gangguan apa-apa. Wah, kenapa ya...

Kami berkesempatan menonton pertunjukan "lighting" yang sangat mempesona pada malam hari. Kalau tidak salah, ini menyerupai Ramayana Ballet di Prambanan, yang pertunjukannya hanya diadakan sebulan sekali saat purnama sidhi (malam terang bulan).

Cukup terhibur dengan lightingnya walaupun tidak begitu mengerti isi ceritanya .. :))



Bersama Sumita,
resepsionis Holiday Inn Khajuraho.

Orang India paling suka lantai rumahnya
bermodel seperti ini...
Apa seperti orang Inggris ya?

@>-------->---------------

Agra: Agra Fort


Agra Fort

Di sinilah Kaisar Shah Jahan mengakhiri hidupnya di dalam pengasingan.
Tidak pernah menyangka, putra sendiri bisa sampai hati menggulingkan sang ayah dari kekaisarannya dan membiarkannya mati merana di dalam benteng ini.

Sayang, kami tidak sempat mengunjungi Moti Masjid yang katanya indah sekali. Moti = Mutiara.


@---->-------------------

New Delhi




with Sharma Brothers

Belajar memetik guitar India yang gede
dan bernama VENA ini amat merepotkan!
Gimana engga repot, ya, beraaat!!
Di toko ini banyak dijual CD bajakan...
sama kaya di Indonesia..

Wah ketahuan dah, saya kemana-mana
lebih nyaman pake sandal jepit!!
(Malu tapi PD aja, engga ada yang peduli)




Di tempat pembuatan karpet di New Delhi ini akhirnya kok malahan saya disuruh berfoto dengan memakai Sari dan Deki dengan turbannya, cuma aja turbannya terlalu kecil! hehe, jadilah seperti ini!

Saya ingat tuh nama orang yang memaksa saya, namanya PRAMOD. Mungkin kalau di Indonesia jadi Pramudia....

Lumayan sih, karpetnya bagus-bagus, tapi aduhaii, mahalll.....

----*******----

Agra: Taj Mahal


Cinta yang Tak Pernah Luntur
Terbawa Hingga Kubur



Mumtaz yang berarti Permata Istana adalah nama yang diberikan Shah Jahan kepada istri ketiga kesayangannya: Arjumand Banu Begu. Ia dinikahi oleh Shah Jahan ketika masih berusia 19 tahun setelah sang Kaisar jatuh cinta pada Arjumand kecil yang masih berusia 14 tahun, namun harus menunggu 5 tahun kemudian untuk menikahinya. Sejak itu dia mendapat julukan Mumtaz Mahal yang berarti Permata Istana.


Selama 19 tahun pernikahannya, ia memberikan Shah Jahan 14 orang putra putri (7 di anataranya meninggal dunia), dan ketika melahirkan anak ke 14nya itulah Mumtaz meninggal saat menemani kaisar melakukan perjalanan ke Burhanpur. Untuk sementara jasadnya dimakamkan di sana. Bayi yang dilahirkan terakhir tersebut diberi nama Gauhara Begum.


Dari cerita yang beredar, di ranjang kematiannya itu, Mumtaz meminta Shah Jahan untuk membuatkannya sebuah monumen sebagai lambang cinta mereka berdua, dan Mumtaz memintanya untuk tidak mengawini siapapun setelah ia meninggal. Shah Jahan langsung menyetujui.

Selama setahun masa berkabung, Shah Jahan mengurung diri dalam kepedihan hatinya kehilangan Mumtaz, dan ketika dia muncul di hadapan publik, konon
rambutnya sudah memutih,wajahnya terlihat tua, dan tubuhnya mulai bungkuk.
Tetapi anak perempuan pertamanya yang amat berbakti, bernama Jahanara Begum, banyak menghiburnya.

Jasad Mumtaz kemudian dipindahkan dari Burhanpur ke Agra, di tepian sungai Yamuna yang kemudian menjadi monumen cinta mereka.

Ada dua kisah yang hidup di masyarakat setelah monumen cinta itu berdiri megah:
1. Shah Jahan memotong tangan 20.000 pekerja yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya demi terealisasinya impian sang kaisar.
2. Shah Jahan memotong tangan chief architect yang merancang Taj Mahal

Entah mana yang benar, tetapi tujuan Shah Jahan melakukan itu konon agar tidak ada lagi bangunan seindah Taj Mahal yang akan berdiri di kemudian hari...

Ketika Shah Jahan jatuh sakit, salah satu putranya Aurangzeb mengadakan pemberontakan, menjatuhkan ayahnya, dan mengucilkannya ke Agra Fort. Menurut cerita, Shah Jahan begitu merana di dalam pengucilannya, dan hanya dapat memandang Taj Mahal di seberang Agra Port, yang dipisahkan oleh Sungai Yamuna. Shah Jahan akhirnya meninggal dunia dalam tahanan rumah. Jasadnya kemudian dimakamkan berdampingan dengan jasad Mumtaz di Taj Mahal.

Makam asli Shah Jahan dan mumtaz berada di dalam bangunan marmer. Sesuai dengan syarat dalam Islam, bangunan ini serta makamnya tidak diberi hiasan apapun. Sedangkan makam yang bisa dilihat publik pada satu spot di dalam interior Taj Mahal, adalah makam yang bukan sesungguhnya.





**************



Agra: Taj Mahal

Taj Mahal
The Crowning Glory of India

Saya melihat gambar Taj Mahal pertama kali ketika saya di kelas 4 SD. Apresiasi ketika itu sebenarnya nyaris tidak ada, hanya terbayang bahwa ini sebuah bangunan mesjid, yang jauh lebih besar dan indah daripada mesjid yang ada di dekat tempat tinggal saya di kota Serang.

Jadi saya hanya menghafal: Salah satu keajaiban dunia adalah Taj Mahal, letaknya di India, didirikan oleh Shah Jahan.

Sungguh suatu keberuntungan, berpuluh tahun setelah itu saya bisa mengunjunginya bersama suami tercinta, melihatnya lebih nyata seperti apa, dan apakah itu Taj Mahal, seperti apa cerita di balik kemegahan "masjid" ini, dll.

Sayangnya, setelah kami berhenti di tempat parkir, langsung tercium aroma tak sedap yang berasal dari.... kotoran sapi yang bertebaran disana-sini.
Tetapi kami lupa akan hal itu begitu tiba di pintu masuk Taj Mahal yang megah. Bukan cuma megah, tetapi pemeriksaan oleh petugas sungguh ketat. Mungkin takut ada yang bawa bom!

Keindahan Taj Mahal memang luar biasa, apalagi dilihat dari jauh. Sayangnya, panas matahari yang terik agak mengganggu!

Banyak yang bilang bahwa Taj Mahal sama seperti Verona di Italy, MONUMEN CINTA!
Kalau di Verona ada monumen cinta Romeo-Juliet, maka di Agra ada monumen cinta Shah Jahan-Muntaz Mahal.
Kedengarannya romantis banget ya...

Dan ternyata apa yang dulu saya pikir sebagai masjid biasa, Taj Mahal rupanya tempat peristirahatan abadi (makam) dua sejoli itu. Oh, barulah saya bisa mengapresiaisinya.
Perbedaan Verona dnegan Taj Mahal yang mencolok: di sini tidak ada coret-coretan nama kekasih atau pasangan yang sudah berkunjung, sedangkan di Verona jutaan nama pasangan sudah saling tindih-menindih di dinding sepanjang jalan masuk ke rumah Juliet, dan sudah tak karuan lagi warnanya.

Kalau saya perhatikan, keindahan Taj Mahal yang utama muncul pada foto-foto yang diambil pada waktu atau menit yang berbeda. Hal ini mungkin karena berbedanya sinar matahari yang menerpa kubah-kubah serta keseluruhan atap dan dinding bangunan tersebut yang diantulkan oleh berbagai macam batu permata serta marmer yang melapisinya.




The symbol of Undying Love for anyone who sees it!

Saya di sayap kanan Taj Mahal. Di latar belakang adalah sungai Yamuna. Sunai yang mengalir ini menambah keindahan bangunan megah yang menjadi lambang cinta abadi Shah Jahan kepada Muntaz.

22 tahun lamanya Shah Jahan membangun masjid ini dengan mengerahkan 20.000 insinyur, arsitek, seniman, ahli permata, serta dekorator dan buruh bangunan da;am merealisasikan impiannya ini.


Menurut sejarah, Shah Jahan memiliki 10 orang istri:

Akbarabadi Mahal (meninggal 1677)

Kandahari Mahal (1594 - 1609)
Mumtaz Mahal
(1593 - 1631)
Hasina Begum Sahiba (dinikahi 1617)
Muti Begum Sahiba
Qudsia Begum Sahiba
Fatehpuri Mahal Sahiba (meninggal setelah 1666)
Sarhindi Begum Sahiba (meninggal setelah 1650)
Shrimati Manbhavathi Baiji Lal Sahiba (dinikahi 1626)

dan beberapa anak:

Jahanara Begum, Dara Shukoh, Shah Shuja, Roshanara Begum, Aurangzeb, Murad Baksh, Gauhara Begu.

Mumtaz rupanya adalah istri yang paling dikasihinya sehingga ketika dia melahirkan anaknya yang ke 14, dan jiwanya tak tertolong, Shah Jahan amat berduka sampai ia mendirikan Taj Mahal untuk makam istrinya itu.


************

Jaipur: Amber Fort

Amber Fort


Bisa bayangin engga sih
penderitaan gajah yang bernama

Lakshmi ini?



Bersama sang pawang


Nunggang "Lakshmi", gajah cantik,
yang penurut, sangat setia dan berbakti
kepada pawangnya,

tapi hidup Lakshmi sangat menderita

karena ditunggangin turis terus-menerus
sambil harus turun naik jalan berliku
untuk mencapai puncak Amber Fort.


Sejak Deki dan saya menunggang Lakshmi itu, saya bersumpah, tidak akan menaiki hewan lagi! Terlalu kejam rasanya melihat hewan "manut" seperti Lakshmi ini harus menahan beban tubuh kami berdua, plus si pawang, ditambah beban tubuhnya Lakshmi sendiri sambil berjalan naiiiikkkk, dan kepalanya "ngangguk-ngangguk " sepertinya dia bilang "Okay, okay, I am taking you up there, and then taking you down again".....
Sepanjang jalan, Lakshmi diajak bicara oleh pawangnya sambil dielus-elus punduknya!

Setiap kali saya melihat foto-foto ini.... ihh ada perasaan bersalah dan menyesal, mengapa setega itu saya menaiki Lakshmi.

Uang yang didapat pawang kan bukan untuk makan ekstra lezat buatnya, atau untuk mengganti bludru dekil yang menutupi punggungnya. Makanan Lakshmi tetap itu-itu saja. Bludru di punggungnya pun ya tetap yang itu, malahan tambah lama tambah dekil serta apek!!

Kasihan kamu, Laksh !
Semoga di kehidupanmu berikutnya, kamu akan menjadi makhluk yang berbahagia, bebas dari tindasan manusia.... Sadhu, sadhu, sadhu.....

******************

Jaipur: Hawa Mahal

Hawa Mahal
(Istana Angin)

(foto: postcard)

Terkenal dengan nama Pink City, Hawa Mahal, merupakan salah satu objek turis terpopuler di Jaipur. Didirikan tahun 1799 oleh Maharaja Sawai Pratap Singh. Bangunannya terdiri dari 5 tingkat menyerupai monumen semi oktagonal dengan jumnlah jendela sebanyak 152. Dirancang bagi para wanita istana untuk melihat dan menikmati dari atas berbagai aktifitas atau arak-arakan di jalan raya tanpa terlihat oleh rakyat jelata dari bawah.
Sekarang keberadaannya adalah sebagai museum.

Memang benar, sebagian besar kota ini mencat bangunannya dengan warna merah muda, dan terlihat berkilau di bawah matahari India pada musim panas bulan Mei 2003 itu. Menurut informasi, bagunan dicat pink kembali tahun 1876 untuk memberi kesan kepada Prince of Wales dalam kunjungannya ke kota itu, bahwa bangunan terbuat dari batu merah.

_______________

Jaipur



Jantar Mantar - Jaipur

Jantar Mantar - Jaipur
(didirikan tahun 1727-1734)

Jantar Mantar yang artinya Alat Hitung, merupakan koleksi peralatan astronomikal dan arsitektural yang didirikan oleh Maharaja Jai Singh II. Ada lima buah lab serupa di beberapa tempat berbeda termasuk yang ada di Delhi. Tempat penelitian yang ada di Jaipur ini adalah yang terbesar.

Tahun 1901 tempat ini mengalami perbaikan besar-besaran, lalu tahun 1948 dijadikan monumen nasional.



Foto sejenak dengan Ravi
yang dengan telaten mengantarkan kami menjelajahi
the golden triangle: Delhi-Agra-Jaipur

****

New Delhi: Bahai House of Worship

Bahai House of Worship
(Lotus Temple)


Kepercayaan Bahai tidak menampilkan objek pemujaan tertentu (misal, idols, patung, kitabn suci dsb). Ketika saya mengunjungi tempat ini, saya terpesona dengan bangunan kuil yang tampak terrific. Bangunan ini mirip kelopak-kelopak teratai (mungkin ini sebabnya dia disebut Lotus Temple) berjumlah 9 dan sebuah kubah besar di tengahnya, mirip kuncup teratai. Betonan tampak kokoh dilapisi dengan marmer Yunani berwarna putih bersih. Di sekelilingnya terhampar tanaman hijau dan 9 kolam.

Ketika saya memasuki ruang ibadah, saya tidak melihat apapun yang menjadi simbol kepercayaan ini, kecuali ruang yang amat besar, kursi-kursi, mimbar, dan ... keheningan.

Di dekat bangunan kuil terdapat perpustakaan dan gallery yang memperlihatkan semua tempat pemujaan Bahai atau Kuil Teratai di seluruh dunia.

ooooo0ooooo

Old Delhi: Qutub Minar

Qutub Minar

Minar artinya Menara. Tingginya mencapai 230 kaki dan seluruh dinding bagian luarnya penuh ukiran sejarah tentang Qutub serta ayat-ayat dalam Qur'an. Keseluruhannya terdiri dari 5 tingkat. Tiga tingkat pertama terbuat dari batu merah, sedangkan tingkat ke empat dan lima gabungan dari marmer dan batu merah.

Ada satu pilar besi di dekatnya yang dinamakan Alai Minar, konon sudah berusia 2000 tahun.

Qutub Minar pernah kena petir dan beberapa kali terserang gempa bumi sehingga tampak miring (mengingatkan saya pada Menara Pisa di Italy), namun usia tuanya serta berbagai bencana alam yang dialaminya ternyata tetap membuatnya berdiri selama berabad-abad.

Saya dengar dari guide kami, Minar ini tidak lagi dibuka untuk dimasuki anak-anak sekolah atau turis dengan maksud untuk menjaga agar jangan sampai mereka terluka andaikata suatu saat ketika mereka di dalam, Minar runtuh.

____0_____

Old Delhi: Red Fort

The Red Fort

Orang India menyebutnya Lal Qila. Bangunan kokoh ini terbuat dari batu berwarna merah kecoklatan. Dibangun oleh Shah Jahan tahun 1638-1648. Mengunjungi tempat ini lebih bagus pada malam hari (lihat dari jalan raya) karena lampu sorot di sekeliling Red Fort ini membuatnya terlihat benar-benar merah terang! Saya melihatnya sebagai nyala api!

Seperti kebanyakan mahakarya arsitektur di jaman Shah Jahan yang disebut Shahjahani styles, Red Fort ini pun memiliki perpaduan seni bangunan Persia, Eropa, dan India.

Tiap tanggal 15 Agustus, hari kemerdekaan India (dari Inggris), Perdana Menteri biasanya menyapa rakyatnya dan menyampaikan pidato di sini.

^------^

13 Desember, 2008

Old Delhi: Raj Ghat

Raj Ghat

Salah satu tempat penting di Old Delhi yang kami kunjungi, selain Jama Masjid, adalah Raj Ghat. Ini adalah monumen peringatan Mohandas Karamchand Gandhi, atau lebih populer nama Mahatma Gandhi
. Bentuknya sangat sederhana, terbuat dari batu marmer hitam, tempat jasad Gandhi dikremasi pada tanggal 31 Januari 1948

Di bagian atas platform yang terbuka menghadap langit itu selalu saja ada bunga-bunga yang diletakkan di atasnya. Biasanya para tokoh dunia yang menyempatkan mengunjungi tempat ini, memberi penghormatan dengan cara meletakkan bunga atau karangan bunga di atasnya. Dan di salah satu sisinya terdapat lentera yang terus-menerus menyala sejak tempat ini dibangun. Pada monumen ini terukir sebuah epitaf "Hē Ram" yang diterjemahkan sebagai "O God" atau "Oh Tuhan", dan dipercaya sebagai kata terakhir yang terucap dari mulut Gandhi sesaat sebelum ia tewas terbunuh.

Secara Harafiah, Raj Ghat diterjemahkan sebagai "Istana Raja". Di dalam bahasa Hindi, tempat kremasi seperti ini disebut Samadhi.


Moment ini dimanfaatkan Deki untuk berfoto di dekat lenteranya.
Sebagai tanda penghormatan, pengunjung tempat ini diminta melepaskan alas kakinya sebelum menghampiri monumen peringatan ini. Nah, Deki (dan saya) melepaskan sepatunya juga... Wow, panasss!! walaupun berjalan di rumput!


Setiap Jumat diadakan upacara peringatan tewasnya Gandhi. Sedangkan upacara persembahyangan diadakan di Raj Ghat pada hari kelahiran dan kematiannya.

Ada beberapa samadhi lain di sekitar Raj Ghat ini, antara lain:

*Jawaharlal Nehru, samadhinya terletak di bagian utara Raj Ghat, disebut Shantivan atau Shanti Vana, yang berarti Taman/Hutan Kedamaian.

*Sanjay Gandhi, cucu Nehru, samadhinya terletak berdampingan dengan samadhi sang kakek.

*Indira Gandhi, samadhinya dinamakan Shakti Sthal yang artinya Tempat Kekuatan.

*Rajiv Gandhi, samadhinya dinamakan Veer Bhumi, artinya Bumi Pemberani
(Kabarnya, samadhi Rajiv Gandhi ini yang terindah - ukiran teratai besar dai batu yang dikelilingi oleh 46 teratai kecil yang melambangkan 46 tahun masa hidupnya. Dan batu-batuan dari seluruh negara bagian di India bertebaran di sekitarnya.

* ada banyak lagi tokoh-tokoh India yang samadhinya di tepian Sungai Yamuna ini.

@>-------->---------------

12 Desember, 2008

Old Delhi: Jama Masjid, Chandni Chowk

Kalau ada NEW Delhi, pastinya ada Old Delhi ya?
Lha iya lah!

(Photo: postcard)
Kalau foto sendiri, ga' sebagus ini! :))



Nah, perjalanan kami di Old Delhi, pertama adalah ke Jama Masjid. Masjid yang terkenal banget bukan karena indahnya, tapi karena terbesar di Asia Pasifik (menurut guide saya Mrs Poonam - dan saya cek di Wikipedia, ternyata emang keterangan itu benar!). Sayangnya, di beberapa lokasi, tampak kotor sekali, terutama karena banyaknya kotoran burung jinak yang beterbangan ke sana-kemari di sekitar masjid itu hingga ke bagian dalam berandanya.

Engga tahu kalau masjid lain, tapi profil masjid ini memiliki pengaruh Hindu dan Buddha, yaitu ukir-ukiran bunga teratai di beberapa tiangnya. Menurut guide saya, memang itu pengaruh Hindu dan Buddha pada masa pemerintahan Shah Jahan, pendiri Taj Mahal di Agra, tahun 1656.
Berlokasi di Old Delhi yang begitu sibuk, masjid yang tetap menjadi salah satu simbul kota Metropolitan Delhi ini katanya bisa menampung 25.000 umat yang bersembahyang di sana.

Di pintu Utara, ada sebuah lemari yang, menurut Mrs. Poonam, terdapat beberapa "relik" termasuk Qur'an yang ditulis di atas kulit rusa. (Tapi kami engga sempat lihat) :((

Perjalanan selanjutnya adalah berkeliling di daerah Chandni Chowk, yaitu pusat perdagangan, perbelanjaan, bazar dll.
Naya Bazaar dan Gadodial Market kami telusuri dengan manaiki becak ala India, yang cukup lebar dan terkesan sangat terbuka. Tempat dudyknya yang tinggi membuat saya agak "ngeri" memandang sekitar, apalagi pengemudinya senang ngebut padahal tempatnya sempit, crowded gitu lah!

Di pasar ini tersedia berbagai macam bumbu-bumbuan, dari biji ketumbar, biji teratai, saffron, jahe, sayuran dan buah-buahan, sampai patung-patung Buddha, Wisnu dan Krisna yang terbuat dari tembaga, kuningan Juga banyak penjahit pakaian wanita SARI, yang bisa ditunggu hanya kurang dari 1/2 jam!! Selain itu, saya melihat ada banyak penjual perlengkapan tari (tradisional ataupun Bollywood modern hahahaha)

***0***

28 November, 2008

A Visit to India

The Land of the Buddha

~deep concentration~

Tujuan utama kami ke tiga negara sekaligus (India, Nepal, Sri Lanka) adalah mengunjungi tempat-tempat relijius bersejarah bulan Mei 2003.

Engga pernah nyangka, akhirnya my dream came true! Bisa mengunjungi India, negara yang entah kenapa, sejak saya kecil, selalu mendapat tempat spesial di hati! Mungkin juga karena saya teramat terpesona dengan profil-profil orang India yang cantik-cantik dan tampan-tampan. Sampai-sampai kalau saya menggambar kepala manusia, teman-teman dan ibu saya mengomentari bahwa gambar-gambar cewek atau cowok itu kok mirip orang India!! Saya sendiri tidak pernah menyadarinya. Yang penting, saya menyukai model wajah begini, mata dan hidung begitu, bibir dan tulang pipi serta dagu begini..... Yah sudah!

Ketika pertama kali saya "jatuh cinta" dengan Buddha Gautama sekitar usia 10 tahun, dan profil sang guru yang sering saya lihat di majalah, buku-buku Buddhis, atau poster-poster, adalah menyerupai profil India, kemudian membuat saya terkesan bahwa "rupa" Sang Buddha ya memang seperti itu: kelopak mata besar walaupun selalu terlihat memandang ke bawah atau "setengah terbuka", alis dan bulu mata tebal, hidung mancung, bibir tipis tersenyum, wajah agak oval, dengan kening sangat manis, tidak terlalu lebar, juga tidak terlalu sempit, leher jenjang, dan tubuh keseluruhannya tidak gemuk, juga tidak kurus (mungkin sih seharusnya tubuhnya kurus sekali, mengingat makannya hanya sekali sehari dan itu pun mungkin tidak banyak)

Dan mungkin juga, karena saya banyak membaca kisah-kisah hidupnya sambil menghafalkan nama-nama tempatnya, semakin saya dewasa, semakin berharap suatu saat saya akan dapat mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi tempat tinggal atau persinggahan Buddha semasa hidupnya. Yang juga menarik perhatian saya ketika kecil adalah nama-nama orang dan tempat di India itu yang terdengar begitu "indah dan manis" di telinga saya, seperti: Maha Maya, Sidharta Gautama, Yasodhara, Suddhodana, Rahula, Maha Prajapati, Ananda, Sariputra, Mogalana, Anatapindika, Sujata, Bodhi, Mudra, Lumbini, Isipatana, Uruwela, Savatti, Rajagiri, dan banyak lagi.

Kesukaan saya akan nama-nama itu hampir sama dengan nama-nama Spanyol, Venezuela, Filipina. Sebut saja tokoh-tokoh telenovela beserta nama-nama tempatnya. Manis-manis kedengarannya, kan?

Nah, kembali ke India.

Jauh sebelum Deki dan saya dapat mengikuti "pilgrimage tour: Follow the Buddha's footsteps" dengan "Sitta Tour and Travel" (pemiliknya memang orang India di Delhi), dan "Sengeh Tour and Travel" (punya orang Tibet yang tinggal di Delhi), saya sudah sangat akrab dengan film-film India (bahkan sejak SMA, suka nonton di Rivoli....), bintang-bintang, serta lagu-lagu Bollywoodnya!!

Ga tahu persis kenapa saya amat menyukai sesuatu yang serba India! I just like it!

Hingga suatu saat, kami bisa melaksanakan perjalanan ke India (dan sekalian ke), Nepal, serta Sri Lanka. Suatu berkah, mendapatkan kesempatan mewujudkan impian dan keinginan yang sudah bertahun-tahun terpendam...

Rencana kami pergi ke India sempat mengundang tawa teman-teman, tetangga dan bahkan saudara-saudara/kerabat sendiri. :) Nada-nada yang mengandung rasa aneh dan "lucu" saya dapatkan sebagai respons yang sudah saya duga sebelumnya. Yah, siapa yang tidak merasa "geli" mendengar kami akan berlibur ke India, negara yang mungkin terkesan "banyak orang miskin, kotor, jorok", dsb. Mungkin di dalam pikiran mereka: "Iiih,, kok jalan-jalan ke India? Jalan-jalan mah ke Eropa, Amerika, Jepang, China, atau apalah yang lain, tapi bukan India! Indonesia aja, dibandingin India, jauh lebih baik dan nyaman keadaannya"..... LOL!

Iya juga sih!

Tapi siapa yang mengerti betapa gembiranya hati saya ketika saya dan suami akan bisa segera mewujudkan impian kecil saya.....! :) Biarin orang lain "ngejek", "ngledek" atau "ngenyek akan rencana itu", justru saya sangat bersyukur menjadi satu dari sekian banyak orang yang punya kesempatan mengunjungi India! Masabodoh deh mereka menertawakan!

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu sekian puluh tahun, tiba juga. Awal Mei 2003 kami berangkat dengan jadwal ketat yang sudah dkonfirmasi dengan tujuan Delhi dulu. Pokoknya, pas Wesak nanti harus ada di Bodhgaya, negara bagian Bihar, Utara India. Karena itu awal-awal Mei, kami mempersiapkan perjalanan ke segitiga emas dulu: Delhi-Agra-Jaipur.

Indira Gandhi Airport tampak tidak sehebat Soekarno-Hatta, namun pemeriksaannya jauh lebih menegangkan dari airport lain yang pernah saya singgahi. Entah kenapa, saya merasa hanya di situlah (dan di Los Angeles-tahun 2004, serta Filipina tahun yang sama) terasa pemeriksaan sangat berlebihan! Tapi memang mungkin itu sudah menjadi peraturan, tidak nyaman tetapi memberikan rasa aman!

Tapi Busyett deh, suhu di Delhi siang hari hampir mencapai 48 derajat Celcius! Serasa di depan kompor atau oven!! Tapi mungkin saking panas dan keringnya, ketika SARS merebak di seluruh Asia saat itu, justru di India hampir tidak ada laporan korban tewas karena SARS! Saya pikir, hal ini terjadi karena begitu panasnya udara di sana sampai (kemungkinan besar) kuman SARS pun mati, sama seperti banyaknya orang dan hewan yang mati kepanasan! Di jendela kamar hotel, saya melihat seekor burung mati kering, tanpa mengeluarkan bau! Kering kerontang seperti potongan kayu!

Ya, hampir di semua tempat yang kami kunjungi, panasnya seperti itu.

Kunjungan ke Segitiga Emas: Delhi - Agra- Jaipur

a. Delhi

Sudah banyak yang tahu tentang Delhi, ibukota India, yang lebih sepi daripada Mumbay atau Bombay, pusat industri film Bollywood, yang belum lama ini juga sempat mengalami pemboman yang menghebohkan itu.

Yang mungkin menjadi ciri khas India, selain kuil Hindu, Jain dan masjid, serta orang-orangnya yang memang sangat cantik (bahkan di usia tua) dan tampan, adalah bunyi klakson mobil yang siang malam tetap "nyaring", berisik! :)

Old Delhi dan New Delhi sangat terlihat mencolok perbedaannya.

Di Old Delhi, sebagian besar penduduknya beragama Islam. Mesjid yang terbesar dan mungkin terindah bernama Jama Masjid. Sayangnya, masjid ini amat kotor dengan berserakannya kotoran burung merpati dan gagak yang bertebangan bebas hingga memasuki bagian beranda Masjid. Banyak pula orang yang berdoa di halaman yang luas.

Juga diajak ke Red Fort dan Raj Ghat

Di New Delhi, lebih banyak orang yang beragama Hindu, sedangkan Buddha merupakan minoritas. Di New Delhi kami diajak berkunjung ke Qutub Minar dan Bahai Temple.

b. Agra

Sudah tentu "Taj Mahal" tujuan utama kami.

c. Jaipur, ibu kota Rajashtan.

Orang-orang disini kulitnya lebih gelap daripada di Delhi. Juga sebagian besar beragama Islam. Beberapa yang saya lihat, termasuk orang-orang Gurkha (dengan pakaian hitam-hitam beserta cadar wajahnya).

Yang kami kunjungi adalah: Hawa Mahal, Amber Fort, Jantar Mantar

(Perjalanan dilanjutkan ke tempat-tempat relijius Buddhis)