13 Desember, 2008

Old Delhi: Raj Ghat

Raj Ghat

Salah satu tempat penting di Old Delhi yang kami kunjungi, selain Jama Masjid, adalah Raj Ghat. Ini adalah monumen peringatan Mohandas Karamchand Gandhi, atau lebih populer nama Mahatma Gandhi
. Bentuknya sangat sederhana, terbuat dari batu marmer hitam, tempat jasad Gandhi dikremasi pada tanggal 31 Januari 1948

Di bagian atas platform yang terbuka menghadap langit itu selalu saja ada bunga-bunga yang diletakkan di atasnya. Biasanya para tokoh dunia yang menyempatkan mengunjungi tempat ini, memberi penghormatan dengan cara meletakkan bunga atau karangan bunga di atasnya. Dan di salah satu sisinya terdapat lentera yang terus-menerus menyala sejak tempat ini dibangun. Pada monumen ini terukir sebuah epitaf "Hē Ram" yang diterjemahkan sebagai "O God" atau "Oh Tuhan", dan dipercaya sebagai kata terakhir yang terucap dari mulut Gandhi sesaat sebelum ia tewas terbunuh.

Secara Harafiah, Raj Ghat diterjemahkan sebagai "Istana Raja". Di dalam bahasa Hindi, tempat kremasi seperti ini disebut Samadhi.


Moment ini dimanfaatkan Deki untuk berfoto di dekat lenteranya.
Sebagai tanda penghormatan, pengunjung tempat ini diminta melepaskan alas kakinya sebelum menghampiri monumen peringatan ini. Nah, Deki (dan saya) melepaskan sepatunya juga... Wow, panasss!! walaupun berjalan di rumput!


Setiap Jumat diadakan upacara peringatan tewasnya Gandhi. Sedangkan upacara persembahyangan diadakan di Raj Ghat pada hari kelahiran dan kematiannya.

Ada beberapa samadhi lain di sekitar Raj Ghat ini, antara lain:

*Jawaharlal Nehru, samadhinya terletak di bagian utara Raj Ghat, disebut Shantivan atau Shanti Vana, yang berarti Taman/Hutan Kedamaian.

*Sanjay Gandhi, cucu Nehru, samadhinya terletak berdampingan dengan samadhi sang kakek.

*Indira Gandhi, samadhinya dinamakan Shakti Sthal yang artinya Tempat Kekuatan.

*Rajiv Gandhi, samadhinya dinamakan Veer Bhumi, artinya Bumi Pemberani
(Kabarnya, samadhi Rajiv Gandhi ini yang terindah - ukiran teratai besar dai batu yang dikelilingi oleh 46 teratai kecil yang melambangkan 46 tahun masa hidupnya. Dan batu-batuan dari seluruh negara bagian di India bertebaran di sekitarnya.

* ada banyak lagi tokoh-tokoh India yang samadhinya di tepian Sungai Yamuna ini.

@>-------->---------------

My darling Grandpa



Grandpa's life was full of
complete devotion to his God and ancestors.
He passed this on to his descendants,
paying homage to God and
respecting parents as well as elders.


His patience and tolerance were the most obvious. None of his descendants seems to get the equal quality. He worried so much when his grandkids living with him was not home yet, after 9 pm.... He would not have a sound sleep when any of his grandkids was having problem. But he always stayed calm when he himself was having problem of his own. He was such a brave man.


Nana making great grandpa company


His words were never rude even when he was facing someone confronting him!
I guess this is one of those things he always wanted his children and grandchildren, or even great grandchildren, to adopt from him.

That was what I had in mind about his strong characteristics. I always smile when I remember him.... Miss him sometimes.


on my parents' silver anniversary

*************




My beautiful Grandma


If there had not been her,
I may not have grown to be me, this very me!
If it had not been her taking care of me
and teaching me by her examples,
reminding me of things which were harmful
for an adolescent like I was,
I may not have been so careful
about my wellness, my future,
and I may not have grown to be
what I am now




She's always been staying in my heart
even after many years she passed away
And the cute ring she gave me 1n 1979
when I graduated from IKIP Jakarta,
even seems to stay shiny around my finger.

So many things she taught me
more by her examples than words.
The older I get, the more precious her examples
mean to me.




I hope her next life will be of
a more blessed one

@_@



Semur Campur Pekak




Harum khasnya Pekak atau Star Anise dalam masakan ini mengingatkan kita pada masakan Chinese.

Yang dimasak boleh apa saja: tahu, daging, telur dsb. Disini saya masak tanpa daging, jadi hanya telur, tahu, kentang.

Untuk yang berdiet, telurnya ga usah dimakan! :)

Bahan:

3 buah telur ayam atau bebek, rebus asal matang, kupas, beri sedikit guratan

2 buah kentang, potong-potong serasi, digoreng atau dipanggang.

2 buah tahu putih, belah empat, goreng, tiriskan.

1 sdm minyak goreng + 1 sdt margarin, untuk menumis.

Bahan haluskan:

4 bawang merah

3 bawang putih

3 butir kemiri

1 sdm ketumbar sangan

1 sdt lada (sesuai selera)

1 bubuk pala (sesuai selera)

Garam sesuai selera

Biarkan utuh:

2 buah pekak (rendam air hangat dulu)

1 batang kayu manis

Kecap manis (sesuai selera)

4 gelas air panas (sesuai selera)

1 ikat kecil soun, rendam air, lalu potong supaya tidak terlalu panjang.

1/2 sdm bawang goreng untuk tabur.

Cara Membuatnya:

1. Tumis bumbu halus, pekak dan kayu manis hingga harum. Masukkan kecap manis. Aduk hingga kecap mengental.

2. Masukkan telur, kentang dan tahu goreng. Aduk rata. Siram dengan air panas. Biarkan mendidih.

3. Beberapa saat sebelum api dimatikan, masukkan soun dan taburi bawang goreng.

3-4 porsi




Ayam Cah Kacang Mede






Kacang Mede tentu saja banyak disukai sebagai snack, bukan hanya karena harumnya bila digoreng, tetapi juga karena gurihnya. Maka tak heran banyak macam hidangan sayur yang ditaburi kacang ini. Salah satunya adalah Ayam Cah Kacang Mede ini.

Bahan:
1/2 dada ayam tanpa tulang, potong sesuai selera. Marinasi dengan
jeruk nipis, sedikit kecap asin dan manis (sesuai selera), 1/2 sdt arak merah/angciu. Biarkan 20 menit agar bumbu meresap.
2 lembar daun sawi putih, potong serasi
2 lembar kol, potong serasi
2 lembar daun sawi hijau/caisim
Beberapa kuntum bunga kol, potong-potong, renda, air panas yang sudah dibubuhi garam.
1 buah wortel, iris serong tipis
1/4 kg jamur merang, bersihkan, potong-potong atau biarkan utuh bila jamur berukuran kecil
1 buah bawang bombai, iris-iris serasi
50 gr kacang mede goreng (sebaiknya digoreng dengan mencampurkan sedikit mentega)

Bahan haluskan:
2 siung bawang putih
1/2 sdt lada
garam

Buat larutan:
1/2 sdm tepung tapioka
2 sdm air
1 sdm saus tiram
4 tetes minyak wijen
1 sdt peres gula putih

3/4 gelas air panas

Cara Membuatnya:
1. Tumis bumbu halus dan bawang bombai hingga harum
2. Masukkan ayam yang sudah dimarinasi, Aduk hingga rata dan ayam berubah warna.
3. Masukkan sayurannya sambil terus diaduk. Siram dengan air panas. Tutup wajan sebentar.
4. Sejenak sebelum diangkat, masukkan larutan tapioka sambil ditaburi biji jambu mede. Aduk sebentar.
Sajikan panas



Lodeh Cemplung

Kalau saya gak punya waktu banyak untuk bikin bumbu, tapi ingin yang agak gurih, seringkali saya membuat masakan ini. Kalau perlu, goreng ikan sepat asin untuk menemani lodeh ini.... Hmmmm


Bahan:

1 buah labu siam

100 gr buncis

100 gr wortel

(semua dipotong serasi)

5 bawang merah, iris tipis

3 buah cabe merah, buang biji, iris serong tipis

3 batang serai, memarkan

2 daun salam

1 sdm udang kering/ebi, rendam air hangat, tiriskan, ulek halus.

garam, sedikit gula pasir

1 butir kelapa, buat santan sebanyak 3 gelas--> 1 gelas yang kental, 2 gelas encer.

Cara Membuatnya:

1. Didihkan santan encer, masukkan semua bahan bumbu, biarkan mendidih lagi dan harum.

2. Masukkan wortel, buncis, kemudian labu siam, sampai cukup matang.

3. Masukkan santan kental. Biarkan mendidih lagi. Angkat.

5 porsi



Sup Pangsit Bayam




Ketika masih kecil, anak-anak seringkali ogah makan bayam. Kadang saya kehabisan akal, bagaimana caranya mereka mau makan sayur yang satu ini.

Sesekali saya buatkan bakwan bayam, tetapi kan terlalu banyak gorengan tidak baik buat mereka.

Akhirnya saya berpikir untuk membuat bayam menjadi bakso dan pangsit karena mereka suka kedua makanan itu. Ternyata, to my surprise, mereka menyukainya!…… bahkan hingga sekarang setelah mereka dewasa!

Bahan Pangsit:

10 lembar Kulit pangsit (untuk rebus), siap pakai

100 gr daging ayam cincang

15 lembar daun bayam, cincang tidak terlalu halus

(Haluskan)

3 buah bawang merah

2 siung bawang putih

Lada, garam, sesuai selera

½ bagian putih telur dari 1 butir telur ayam

Sedikit larutan tepung sagu untuk merekat kulit pangsit

Bahan Kuah

Sedikit minyak untuk menumis

3 siung bawang putih

Lada, garam, sesuai selera

2 sdm udang kering/ebi, rendam air panas, lalu tiriskan.

Air panas untuk kuah (banyaknya sesuai selera)

Bawang goreng (kalau suka) untuk tabur

1 ikat bayam, petik-petik, cuci bersih.

Membuatnya:

(Bahan Pangsit)

1. Campur semua bahan pangsit menjadi satu, kecuali kulitnya.

2. Buat bulatan sesuai selera (bisa sebesar kelereng atau telur puyuh).

3. Kukus bulatan-bulatan ini. Setelah matang, sisihkan.

4. Siapkan kulit pangsit. Oles kulit pangsit dengan larutan sagu di bagian tengahnya. Masukkan sebuah bulatan daging, lalu rekat dua ujung kulit yang berseberangan. Jadikan satu. Buat demikian dengan kedua ujung lainnya sambil direkatkan dengan larutan sagu, sehingga bagian bulatan daging cukup terlihat menonjol keluar di bagian tengahnya (seperti perahu).

5. Buat demikian hingga seluruh daging habis. Sisihkan.

(Bahan kuah)

1. Tumis bawang putih, lada, garam, ebi, hingga harum.

2. Siram dengan air panas. Biarkan mendidih.

3. Masukkan pangsit dan daun bayam. Masak hingga matang

4. Taburi bawang goreng

5. Santap selagi panas dan harum ebi terasa menggugah selera.

_______________


Gurih Nangka Muda


Nah, yang ini menu favorit saya!

Kalau membuat masakan bersantan seringkali saya hanya memakai santan yang tidak terlalu pekat. Maklum, saya menderita diabetes, dan suami sudah cukup gemuk…. Hehehe, anak-anak kurang menyukai santan pekat pula!

Nah, begitu juga dengan gulai nangka muda ini. Pedasnya pun engga seberapa…. Jadi yah… buat yang suka pedas, tinggal tambahkan aja cabe merahnya, atau masukkan sambal terasi…. Hehehehe.


Bahan 1:

1/4 kg nangka muda, potong-potong, rebus hingga empuk dengan sedikit garam. (Biasanya saya menggunakan panic tekan, 1 menit saja). Siram dengan air matang, lalu tiriskan.

100 gr. daun melinjo muda, sebaiknya direbus dulu, kemudian siram air matang, tiriskan dan sisihkan.


Bahan 2: (haluskan)

5 bawang merah

2 siung bawang putih,

3 cabe merah/sesuai selera

4 buah kemiri

1 potong terasi udang bakar

1 sdt ketumbar sangan, tumbuk

Garam, gula merah, sesuai selera

Memarkan:

2 batang serai

1 potong lengkuas

Biarkan utuh:

2 lembar daun salam

2 lembar daun purut, sobek-sobek


Asam jawa sebesar kelereng, hancurkan dalam 1 sdm air hangat.

½ butir kelapa, jadikan santan sebanyak 500 cc.

Cara Membuatnya:

  1. Tumis Bahan 2 hingga harum.
  2. Masukkan bahan yang dimemarkan, daun salam dan daun purut. Aduk rata hingga harum.
  3. Masukkan nangka muda dan daun melinjo yang sudah ditiriskan. Aduk terus hingga rata. Masukkan air asam jawa.
  4. Siram dengan santan, biarkan mendidih sambil diaduk agar santan tidak pecah.

(Paling sedap disajikan dengan ikan asin goreng atau bakar!)

_______________




NASI GORENG DAUN MENGKUDU




Sarapan Nasi Goreng Mengkudu di pagi hari adalah kebiasaan saya ketika masih duduk di SMP dulu, sekitar tahun 1968-1970.

Teman-teman banyak yang bertanya, kenapa saya suka daun mengkudu yang begitu pahit, langu dan “ga ada enaknya”….. Kenapa ya? Saya sendiri ga tahu kenapa suka!

Jangankan dibuat nasi goreng, daun mengkudu yang direbus dan disantap sebagai lalap dengan sambal kacang atau sambal terasi aja hmmmm sudah terbayang kelezatannya!

Tapi saya mengerti mengapa mereka bertanya-tanya. Kalau kita tahu peribahasa Inggris ini, maka kita tidak lagi harus bertanya-tanya mengapa kita suka ini dan tidak suka itu, sedangkan orang lain sebaliknya.

“One man’s meat is another man’s poison”.

Buat saya, daun mengkudu dan buah mudanya (orang Sunda bilang: pentil), yang dibuat nasi goreng ini, bahkan menimbulkan ketidaksabaran, ingin segera menyantapnya selagi hangat!


Bahan:

1 piring nasi dingin

2 lembar daun mengkudu yang cukup muda, iris-iris memanjang.

(Bagi yang suka) beberapa biji leunca, biarkan utuh

1 sdt minyak goreng untuk menumis.

Bumbu (haluskan):

2 bawang merah

1 cabe merah, buang biji

8-10 pentil mengkudu

1 potong kencur

1 potong kunyit

1 potong kecil terasi

Garam sesuai selera

(Kalau suka) 1 butir telur ayam, kocok lepas

Beberapa iris cabe merah untuk tabur

1 sdt bawang goreng untuk tabur

Cara Membuatnya:

1. Tumis bumbu halus dan irisan daun mengkudu hingga harum.

2. Masukkan telur kocok, aduk hingga mengeras. (Bagi yang suka leunca, masukkan bersama telur)

3. Masukkan nasi, aduk rata.

4. Sebelum diangkat, taburi cabe merah.

5. Taburi bawang goreng.

6. Pelengkap dapat berupa: sambal kacang, abon sapi/ayam, irisan timun, bakwan udang atau jagung, krupuk atau emping.

(-Saya lebih suka menyantap Nasi goreng mengkudu dengan timun saja)

-Nasi yang terlihat di sini adalah nasi untuk diet rendah kalori yang diperuntukkan bagi diabetesi seperti saya! Untuk yang tidak sedang berdiet, pakailah nasi biasa, hasilnya lebih enak dan lezaat!)

1 porsi.


Kacang Panjang Tumis Kari



Harum aroma daun jeruk purut selalu menggugah selera makan. Begitulah yang saya rasakan dari masakan Kacang Panjang Tumis Kari ini. Pembuatannya yang sederhana dan aroma daun purut sangat tepat untuk segera mengisi perut yang lapar! Tidak perlu “ditemani” oleh masakan lain. Hanya masakan ini dan beberapa ekor ikan asin bakar atau goreng saja sudah lebih dari nikmaat!

Bahan:

50 gr kacang panjang, potong serasi, goreng dulu agar lunak, tiriskan
2 lembar kol, iris-iris memanjang
½ sdt minyak bekas menggoreng kacang panjang, untuk menumis

Bahan (ulek):

2 biji bawang merah,
1 siung bawang putih
1 cm kunyit, memarkan, bakar
1 potong kecil terasi bakar
½ sdt biji lada

½ sdt bumbu kari bubuk (siap pakai)
1 batang serai, memarkan
2 lembar daun jeruk purut
Garam, sesuai selera
Gula pasir sejumput (kalau suka)
1 sdt air asam jawa

Cara Membuatnya:

1. Tumis bahan ulek, bumbu kari bubuk, serai, daun purut dan garam, hingga harum.

2. Masukkan kol, kacang panjang, dan gula pasir hingga rata. Tutup wajan dan biarkan masakan matang.

3. Sebelum diangkat, masukkan air asam. Aduk rata kembali.

4. Sajikan hangat.

(3 porsi)


Kids - Trust in you



A mother's trust is
the ability for what you think is right

Di Kompleks Pertamina, Palembang.
Kalau berantem, Wirya hampir selalu kalah
dari Nana.... Kenapa yaa?
Apa karena Wirya lebih suka mengalah?



Di kantor papa, Palembang, ketika
papa menerima group tamu dari
Universitas Pertanian Kentucky.
Nana selalu jadi pusat perhatian..
Eh, tapi kok jam kantor,
kamu bisa seenaknya
keluar-masuk kantor papa?



You, drying Baby Bella's soft fur..
I know you are always fascinated by
puppies, kittens, and other baby animals.





Taking care of mama Bella and new-born baby Prilly.
They enjoyed your careful hands
__________

12 Desember, 2008

Old Delhi: Jama Masjid, Chandni Chowk

Kalau ada NEW Delhi, pastinya ada Old Delhi ya?
Lha iya lah!

(Photo: postcard)
Kalau foto sendiri, ga' sebagus ini! :))



Nah, perjalanan kami di Old Delhi, pertama adalah ke Jama Masjid. Masjid yang terkenal banget bukan karena indahnya, tapi karena terbesar di Asia Pasifik (menurut guide saya Mrs Poonam - dan saya cek di Wikipedia, ternyata emang keterangan itu benar!). Sayangnya, di beberapa lokasi, tampak kotor sekali, terutama karena banyaknya kotoran burung jinak yang beterbangan ke sana-kemari di sekitar masjid itu hingga ke bagian dalam berandanya.

Engga tahu kalau masjid lain, tapi profil masjid ini memiliki pengaruh Hindu dan Buddha, yaitu ukir-ukiran bunga teratai di beberapa tiangnya. Menurut guide saya, memang itu pengaruh Hindu dan Buddha pada masa pemerintahan Shah Jahan, pendiri Taj Mahal di Agra, tahun 1656.
Berlokasi di Old Delhi yang begitu sibuk, masjid yang tetap menjadi salah satu simbul kota Metropolitan Delhi ini katanya bisa menampung 25.000 umat yang bersembahyang di sana.

Di pintu Utara, ada sebuah lemari yang, menurut Mrs. Poonam, terdapat beberapa "relik" termasuk Qur'an yang ditulis di atas kulit rusa. (Tapi kami engga sempat lihat) :((

Perjalanan selanjutnya adalah berkeliling di daerah Chandni Chowk, yaitu pusat perdagangan, perbelanjaan, bazar dll.
Naya Bazaar dan Gadodial Market kami telusuri dengan manaiki becak ala India, yang cukup lebar dan terkesan sangat terbuka. Tempat dudyknya yang tinggi membuat saya agak "ngeri" memandang sekitar, apalagi pengemudinya senang ngebut padahal tempatnya sempit, crowded gitu lah!

Di pasar ini tersedia berbagai macam bumbu-bumbuan, dari biji ketumbar, biji teratai, saffron, jahe, sayuran dan buah-buahan, sampai patung-patung Buddha, Wisnu dan Krisna yang terbuat dari tembaga, kuningan Juga banyak penjahit pakaian wanita SARI, yang bisa ditunggu hanya kurang dari 1/2 jam!! Selain itu, saya melihat ada banyak penjual perlengkapan tari (tradisional ataupun Bollywood modern hahahaha)

***0***