Indahnya Lantana di dalam bloombak dalam perjalanan ke Puncak Pilatus, Swiss
Bunga Lantana yang tumbuh berjuntaiselalu indah dipandang mata....
Saya ingat, puluhan tahun laluketika akan menanam Lantana di bloombak rumah, pembantuku bilang,
"Wah, kok pohon ginian aja dibeli dan mahal harganya? Di kampung saya, pohon seperti ini diinjak-injak kerbau!!"
"Kita baru bisa menghargai sesuatu dan memeliharanya dengan baik bila kita jarang mempunyai kesempatan untuk memilikinya"
19 Maret, 2009
"It's the last time I feed you"
Traditional Chinese people usually consider that the main objective of a marriage is not only the joining and enhancing the two families, but also the assurance of succession with good numerous descendants. They take the importance of the series of Chinese traditional wedding customs and rituals as more important than that of the reception itself.
Nowadays more Chinese people seem to have taken the wedding receptions more important than that of complicated and broad Chinese traditional ones.
I think I was lucky for having been born in Indonesia where wedding customs and rituals that my ancestors had brought from mainland China were made much simpler, but that my traditional parents still did several things to still preserve them. They thought that both the traditional things and the modern things should be "balanced". And they said that all traditional things our ancestors had passed on must have had something good for us to adopt. Maybe not all of them, but some are still applicable and still good for us to live by.
Actually traditional Chinese consider , the main objective of a marriage is not only the joining and enhancing the two families, but also the assurance of succession with good numerous descendants. Hence symbols play an important role in wedding ceremonies, a few important things my husband and I did on our wedding.
Chinese cannot be far from symbols, and I understand that all symbols during the wedding ceremony are obviously for the bride and the bridegroom to focus on and take as something to keep in mind during their marriage life.
One of those symbols is "parents feeding the daughter or son", which tells that from this day on the son who has been fed by his parents since he grew in the mother's womb till the day he gets married, will have to "feed" himself and his new family. As for a daughter, the parents "feed" her on the ceremony to symbolize that it is the last time they feed her, and will trust their son-in-law to feed their daughter, protect her, and maintain her wellness in the future.
my parents "feeding" me on my Chinese traditional wedding ceremony
I don't know how to repay my dear parents for having brought me up and fed me and helped me to be what I am now.
I can't thank my parents enough
25 Februari, 2009
Lukisan mulut seorang anak Tibet sebagai hadiah kasih
Setiap kali saya melihat lukisan-lukisan ini, saya selalu teringat raut wajah anak perempuan berusia 10 tahun yang membuatnya. Betapa tidak! Ia seorang dari sekian banyak anak-anak Tibet yang tinggal dalam pengasingan di Dharamsala, India, di bawah pimpinan spiritualnya, Dalai Lama Tenzin Gyaltso.
Yang membuat saya terharu, anak-anak ini adalah anak-anak cacat fisik. Ada beberapa yang juga tuna grahita. Anak yang memberikan gambar-gambar ini melukis dengan mulutnya karena ia terlahir tanpa kaki dan tangan. Tapi wajahnya yang imut dan selalu memperlihatkan senyum manisnya, merefleksikan suatu keinginan yang kuat untuk tetap berbahagia dengan segala keterbatasan fisiknya. Barangkali sesuai dengan namanya Zopa yang berarti "patience" katanya, dia memang terlihat sabar dan berbudi halus.
Dari apa yang diperbuatnya, dia mengajarkan saya untuk tetap berusaha dan mensyukuri hidup walaupun fisik tidak mendukung, dan hidup dalam keprihatinan.
Seringkali, kita yang mempunyai anggota tubuh lengkap, lebih suka mengeluh karena ada sesuatu yang diderita (kurang sehat, kurang cantik, kurang tampan, kurang kaya, kurang pandai, dsb). Kita tidak cukup bersyukur atas apa yang sudah menjadi berkah bagi kita, tetapi lebih cenderung membandingkan kebahagiaan atau kesulitan kita dengan orang lain. Dan hampir selalu merasa kurang puas, karena kelihatannya rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri.
"The worst prison would be a closed heart" (Pope John Paul II)
06 Februari, 2009
I am thankful
for the physical ugliness I was born with because it means that I would not be conceited or think that people would like me just because of my physical appearance
I am thankful for my not-so-good intelligence when I was at school because that means I should study much harder than anybody else who was more clever than I was.
I am thankful for the disciplines and restrictions that my father brought me up with because it means I had a father who cared about my future, about what kind of woman I should become by living by the lessons he gave
I am thankful for losing my childhood fun with my school friends but taking care of my sick mother instead. It means that I was lucky, I could be with her when she needed me.
I am thankful for someone I met in my life, who would later be my hubby, whose most characteristics were (and still are) contradictory to mine, because it means I had a chance to learn how to tolerate and love him for what he is
I am thankful for the man I married, born to a simple family that needed to work hard to get something he wanted. That means he would be a man who appreciates every cent he earns and uses it wisely
I am thankful for raising my kids without any babysitters, because that means I had a lot of chances to learn how to take care of kids and watch them grow before my very eyes.
I am thankful for all the pain I have gone through that sometimes even I don't understand why, as a weak person, I've at last had the ability to cope with.
I am thankful because without all of the pain I would not have the courage to face life, and would not have appreciated any gain and blessings I have been given, even if those given, were the smallest ones.
31 Januari, 2009
Kenangan Bersama Mado
dan Michel
Datang dari jauh, Laon, Perancis, Mado dan Michel mulai menginjakkan kakinya di Jakarta-Tangerang dengan terpesona melihat banyaknya supermarket "Carrefour"!"It is French, but we have onely one Carrefour even in Paris! There is no Carrefour in Laon. What a surprising thing!"Hehehe, dia engga tahu, orang Indonesia gemar belanja!Juga si Oom yang kata keluarga saya masih terlihat "ganteng" di usia tuanya ini, senang sekali berada di tengah orang-orang kita yang jauh dari kesan "hebring".... Dia senang duduk-duduk bersama pera tukang dagang di Pasar Lama, Tangerang, di tempat duduk mereka yang lumayan dekil dalam suasana "bau keringat"...Para pedagang juga ramah menyapa "Hello Mister!"yang membuat Michel senyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah mereka.
"I am surprised, so many people here look so friendly to me. It's so different from what you may find in France where most people show frowns more, making them look so ugly!", begitu kata Michel, sambil memperagakan bagaimana wajah orang-orang Perancis yang tidak ramah, membuat saya terpingkal-pingkal. Bisa aja tuh si Michel! Tapi kemudian hal itu dibenarkan oleh istrinya.
Waktu saya ke Perancis, tidak memperhatikan apakah orang-orangnya cemberut atau ramah. Yang saya lihat sih, perempuan Perancis lebih cantik daripada perempuan Italy, dan laki-laki Italy lebih tampan daripada laki-laki Perancis!
Satu komentar Michel yang saya tidak akan lupa:
"I thought Indonesia was a poor country like I read in newspaper, but oh, so many people going to big malls ! I was surprised!"
Makanya, Michel, kamu tuh jangan asal percaya apa yang ditulis di newspaper. Ehipassiko, doong.. (Datang dan lihatlah sendiri). Nah sekarang udah tahu kan sesungguhnya kaya apa? (Padahal, sssssstttttt, yang datang ke mall kan engga semuanya belanja, banyak juga yang window shopping aja, atau sekedar masuk buat mendapatkan sejuknya AC sambil duduk-duduk, ngobrol, daripada di luar.... panas!)
Selamat Tahun Baru Imlek
Secara pribadi, artinya: saya dan keluarga, tidak merayakan Imlek secara khusus, apalagi memakai baju baru atau mengganti apapun yang lama dengan yang baru.
Tidak ada sesuatu yang istimewa di hari ini, tidak ada pesta atau perayaan, termasuk hidangan yang dimasak ataupun secara sengaja mempersiapkan kue-kue Imlek. Semua berjalan seperti hari-hari biasa. Bahkan anak-anak saya pun menjalankan rutinitasnya seperti di hari libur biasa: bermain komputer, nonton DVD, atau sekedar dudk-duduk membaca.
Tahun Baru tanpa baju baru
Yang membedakan adalah, setelah jam 7 pagi, kami sekeluarga akan menyempatkan diri mengunjungi para tetua untuk mengucapkan "Selamat Tahun baru Imlek". Aktifitas ini menyenangkan karena pada saat-saat seperti itu, saya akan bertemu begitu banyak kerabat dan handai taulan yang belum tentu saya bisa jumpai pada hari-hari libur biasa. Bercerita, bercanda, mencicipi hidangan yang tersaji dsb. adalah acara yang selalu berlangsung di rumah kakak kedua Deki, di kawasan kelapa Gading.
Begitulah Imlek bagi kami sekeluarga. Hal positif yang didapat adalah: semakin eratnya hubungan persaudaraan di antara kami.
Selamat Tahun baru Imlek. Banyak rejeki, banyak teman, tetap sehat dan sejahtera!
29 Januari, 2009
Ibu Guruku Sayang
Ada dua orang ibu guru yang begitu berkenan di hati saya. Selain jasanya sebagai pendidik, beliau-beliau juga menjadi panutan sejati bagi saya. Mungkin justru karena contoh yang mereka tunjukkan kepada saya, membuat saya ingin mengikuti jejaknya, yaitu menjadi guru. Apa yang mereka lakukan bagi anak-anak didiknya, mengantarkan saya pada kuliah di IKIP Jakarta.
Ibu Murti Ntah sekarang beliau ada di mana dan bagaimana kabarnya. Terakhir saya berjumpa dengannya di Labuan, di SD Katholik yang dipimpinnya bersama suami tercinta.
Dari Ibu Murti, saya belajar tentang "kesabaran". Bahwa guru yang sabar seperti beliau, sangat disayang dan dihormati anak-anak muridnya. Gaya bicaranya yang khas Yogyakarta, terdengar lembut di telinga, tanpa mengurangi kesan wibawanya.
Bukan hanya manis wajahnya, sikapnya pun membuat keluarga saya amat menghormatinya. Wajah Timurnya benar-benar menyejukkan hati. Bahkan kalau saya sedang sedih karena nilai yang kurang bagus, Ibu Murti akan memandang saya dengan matanya yang indah, menghibur dengan mengatakan, "Sebenarnya kamu pandai. Belajar lebih giat lagi tentu bisa membuatmu mendapat angka lebih bagus lagi". Begitu kata-katanya yang tidak dapat saya lupakan. Kata-kata yang diucapkan seperti seorang ibu kepada anak kandungnya.
Tawanya yang juga "manis didengar", membuat saya kadang rindu ingin bertemu lagi dengannya dan bercanda. Saya ingin sekali menggodanya dengan mengingatkannya pada waktu beliau sering meminta saya memasukkan surat-suratnya untuk calon suaminya di Labuan, propinsi Banten (sekarang). Tentu saja saat-saat itu adalah saat-saat dimana ibu guruku yang baik hati ini sedang "berpacaran". Dan kami, murid-muridnya, tahu semua...
Ibu Murti memang pantas mencintai dan dicintai suaminya karena suaminya juga pria yang sangat santun, sabar dan baik hati, sifat yang juga dimiliki Ibu Murti. Kelihatan sekali beliau sangat mencintai Ibu Murti. Itu membuat anak-anak murid seperti saya, lega dan ikut gembira.
Ibu guru kami yang istimewa di kelas V, SD Mardiyuana, Serang
Ibu Suwarti Guru Kelas VI Foto bersama sahabat-sahabat (dari kiri) Lilis, Ong Hong Liu, saya, Ernie Wiriawan
Ibu Suwarti. Tidak pernah saya menemukan seorang guru yang begitu tegas, lugas, "gesit", energetic, seperti beliau. Walaupun demikian, gaya feminin dan keibuannya begitu menonjol. Rambutnya yang panjang ekor-kuda hingga melewati pinggang, merupakan bagian lain dari daya tariknya ketika mengajar, karena rambut ekor-kudanya akan terombang-ambing indah mengikuti gerak kepalanya. Saya paling suka dengan caranya mengajar menyanyi. Suaranya keren lho! Kalau mengajar lagu wajib, wah Ibu Warti (begitu kami memanggilnya) bersemangat sekali, sehingga anak-anak ikut terbawa semangatnya. Dan (saya masih ingat betul), bu Warti menyanyi dengan lembut, emosional, ketika pertama kali kami diajarkan lagu Sayonara dalam bahasa Inggris:
"Sayonara, Japanese Goodbye Goodbye, Sayonara, but you musn't cry No more we stop to see pretty cherry blossoms No more we 'neath the trees looking at the sky
Sayonara, if it must be so Whisper sayonara, smiling as we go No more we stop to see pretty cherry blossoms No more we 'neath the trees looking at the sky
Sayonara, sayonara Goodbye
Lagu tahun 1957-an yang dinyanyikan oleh Berlin Irving ini berhasil menjadi lagu favorit saya jaman itu.. Dengan diajarkan oleh Ibu Suwarti, lyrics lagunya terasa mudah sekali dihafalkan (ketika kami di kelas VI sama sekali belum mengerti bahasa Inggris!)
Ibu Suwarti mengajarkan lagu ini untuk paduan suara pada waktu perpisahan. Dari nadanya yang sedih, dan kata-kata yang diterjemahkannya kemudian, membuat saya terpesona dengan lagu Jepang ini (sampai sekarang!)
Ibu Suwarti sering juga jengkel karena anak-anak muridnya suka bandel, dan suka bicara sendiri ketika ibu Warti mengajar. Dengan banyak menasehati, ibu guruku ini memperlihatkan bagaimana mengatasi kebandelan kami. Beliau membuat saya semakin bertekad untuk menjadi guru setelah saya besar...
Mudah-mudahan, Ibu Murti dan Ibu Warti masih ingat kepada anak-anak didiknya, termasuk saya. Dan mudah-mudahan suatu saat nanti beliau menemukan Blog ini agar kami bisa kembali menyambung tali kekeluargaan.
28 Januari, 2009
I am happy if
~I see my mother and each member of my family free from illnesses and any suffering
~I am well, too, so that I won't have to make my loved ones worry about me
~I know that my friends around smile or laugh more than frown
~My children get what they have long been wanting so that they can appreciate it.
~My husband comes home from work wearing a smile on his face, that means I know his day at the office was just fine and his journey home didn't make him upset because of some annoyance made by frustrated drivers who drove carelessly
~My son's problem at school is not disturbing him and any of us because I have always wanted him to have a peace of mind and courage to last his days with good things he should do
~My daughter arrives home from work with a "hi" coming from her lips as soon as she sees me.
~My friends come to see me or me to see them because I don't want to miss them or them to miss me.
~I can respect people, love them in diversity, be compassionate for those needy, rejoice for others' happiness and accept them as they are
25 Januari, 2009
I learned
that if you would be loved,
love and be lovable
If you have found the one you love
then you have found the rose in a forest of thorns
19 Januari, 2009
I have no other choice but leaving this hobby behind :((
Lukisan foto Rajiv Gandhi
My father didn't allow me to draw or paint, because it would not make money, he said, but I didn't listen to him... I continued to draw and draw, even without any purpose of making money from what I've always been fond of doing
Later I learned to do more of drawing with the help of the computer
Lukisan foto Indira Gandhi But now I've stopped the hobby since my eye sight got worse because of aging, the side effect of the hyperthyroidism, vertigo, and the diabetes
It's hard to last my days without making paintings, but I know I have to take care of my poor eyesight even more now
11 Januari, 2009
Lagu dan Musik menyembuhkan sakit yang saya derita
saya dan MP3 yang selalu saya bawa serta kemanapun pergi
Sejak kecil saya amat menyukai lagu dan musik. Ga peduli, apakah saya mengerti syair atau artinya. Bagi saya, syair nomor 2, yang penting nadanya enak terdengar di telinga. Karenanya lagu yang saya dengar sangat bervariasi dan juga bukan hanya lagu Indonesia.Mungkin saya terbiasa mendengar ide (mom) memutar lagu/musik dari koleksi piringan hitamnya yang sangat bervariasi. Lagu/musik Indonesia (termasuk lagu daerah seperti Ambon, Batak, Minang, Sunda, Jawa Tengah/Timur, bahkan lagu dari Bali dan Kalimantan, dan jenisnya dari pop folk, sampai langgam dan kroncong), barat pop, Jepang, Cina, dan Amerika Latin, adalah irama yang sudah akrab di telinga saya sejak saya masih belum lancar membaca!
boneka kesayangan, Luisella, pemberian ortu
Saya ingat, ide sering sekali memutar lagu-lagu Nat King Cole. Saat itu saya masih duduk (mungkin) di bangku kelas I atau II SD, yang membaca pun masih dieja.Lagu yang sering diputar ide adalah "Autumn Leaves", ini saya tahu kemudian, setelah saya duduk di bangku SMP, dan mengerti arti judulnya.Karena ketika itu saya masih belum lancar membaca, maka label dari piringan hitam itu yang di dalamnya terdapat lagu Autumn Leaves, saya coret-coret untuk menandakan bahwa itulah lagu yang sering diputar ide dan yang saya juga sangat suka! Dan saya sering memutarnya sendiri tanpa bantuan ide lagi.Begitu juga dengan musik.
Ada satu yang saya suka sekali mendengarnya (Juga judulnya saya tahu kemudian: "Love is a Many Splendored Thing", yang menurut ide, itu berasal dari film yang berkesan dalam di hatinya, yang ditayangkan di bioskop setelah saya lahir - berarti tahun 55 ya?).
Love is a many-splendored thing, It's the April rose that only grows in the early spring, Love is nature's way of giving a reason to be living, The golden crown that makes a man a king.
Once on a high and windy hill, In the morning mist two lovers kissed and the world stood still, Then your fingers touched my silent heart and taught it how to sing, Yes, true love's a many-splendored thing.
Lagu ini yang aslinya dinyanyikan oleh Nat King Cole, lalu dinyanyikan oleh banyak penyanyi seperti Frank Sinatra, Englebert Humperdinck dll.Film ini sendiri kemudian sempat saya tonton di TVRI kala saya sudah duduk di SMP kelas I. Kisah nyata tentang dr. Han Su Yin dengan kekasih Amerikanya yang terjadi di Hong Kong. Pantas saja ide menyenangi musik/lagu itu, mungkin kisah nyata itu sangat menyentuh perasaannya... (Sebenarnya saya belum begitu bisa merasakan romantisme kisah itu atau kesedihan suatu perpisahan ketika saya menonton film tersebut. Jadi lebih hanya menikmati lagunya saja yang enak didengar!)
Kelas I SMPyoung and stupid
Jaman dulu, teman-teman SD saya tidak begitu tertarik dengan lagu-lagu barat, tetapi ada satu orang yang saya temukan berhobby sama dengan saya, yaitu YANTI (nama lengkapnya lupa! Tapi dia sekelas saya, di kelas VI), tapi dia punya ayah yang bekerja di Cilegon, di (sekarang) Krakatao Steel, seorang insinyur yang banyak bepergian ke Eropa dan Australia. Yanti dan saya bersahabat baik ya karena hobby lagu-lagu itu.
Keluarganya banyak mengoleksi piringan hitam juga, tetapi sebagian besar lagu barat. Katanya, bapaknya itu seneeeeeng banget dengerin lagu :)) ! Berbeda dengan bapak saya yang snagat tidak suka lagu kecuali jenis kroncong!Saya ingat, suatu hari, Yanti membicarakan soal lagu-lagu Bee Gees yang piringan hitamnya baru saja dibeli oleh bapaknya dari Belanda dan dia berjanji kelak akan meminjamkannya kepada saya.
Bukan main baik hatinya teman saya yang satu ini! Dan benar saja, tidak terlalu lama kemudian, dia bawakan saya 2 buah piringan hitam lagu-lagu Bee Gees. Yang paling saya ingat dari judul-judul lagunya (padahal belum ngerti bahasa Inggris) adalah "Lamplights", "Spicks and Specks" dan "The Singer Sang His Song"
Lyrics: Lamplights
Then I may end. She had things to buy. I close my eyes. Yet I don't know why. I gave her money; said she knew someone. And she said she won't be long.
Lamplights keep on burning while this heart of mine is yearning. Lamplights keep on burning till this love of yours is mine.
I sat alone with my thoughts and laughed . Then saw your face in an old photograph. I didn't think that I could live without you but what am I to do ?
Lamplights keep on burning while this heart of mine is yearning. Lamplights keep on burning till this love of yours is mine Come home again dear.
I have waited year after year under the lamp in our old avenue. If all in the world that's laughing, why should it make us cry? Ah...
Lyrics: Spicks and Specks
Where is the sun That shone on my head The sun in my life It is dead It is dead Where is the light That would play In my streets And where are the friends I could meet I could meet
Where are the girls I left all behind The spicks and the specks Of the girls on my mind Where is the sun That shone on my head The sun in my life It is dead It is dead
Where are the girls I left all behind The spicks and the specks Of the girls on my mind
Where is the girl I loved All along The girl that I loved Shes gone Shes gone
All of my life I call yesterday The spicks and the specks Of my life ve gone away All of my life I call yesterday The spicks and the specks Of my life ve gone away
Lyrics: The Singer Sang His Song
He'd sing his song most ev'ry night Wishing she was there behind the light The people danced and sang along On the cardboard stage he never sang it wrong
And the piper played the tune And the drummer wore his spurs But the song that the singer sang was for her
Now the singer's song is never heard And the visions he once saw are disappeared Now they never dance or sing along But on the cardboard stage he never sang it wrong
And the piper played the tune And the drummer wore his spurs But the song that the singer sang was for her
(break)Ah..........
Lagu-lagu The Cats (dari Belanda) juga menjadi buah bibir kami, seperti "Lea" dan "I Gotta Know What's Going On" di awal tahun 1968
Lyrics: Lea
How do you feel Lovin' a rose Guarding her life day and night How do you feel Losing that rose Killed by a storm you can't fight
Lea, Lea Girl I love her Leaving me behind The memory of your smile That will never leave my mind
Where are those words I heard you say You would forever be mine Where are those words How can I pray Losing a love so divine
Lea, Lea Girl now you're gone Leaving, leaving behind The memory of your smile That will never leave my mind
Lyrics: I Gotta Know What's Going On
I’ve Gotta Know What’s Going On Why Don’t You Stop Crying Just Tell Me What Have I Done Wrong You Think I’ve Been Lying
I Tell You What I’m Gonna Do Why Don’t You Believe Me I’m Gonna Prove My Love To You Please Don’t Say You Leave Me ‘Cause When You Go I Can’t Show YouHow Much I Love You
Love Is Love, It’s Not A Thing To Play With (Love Is Love) Love To Me Means More Than Just Have Fun (Love Is Love)
Nevertheless, A Sweet Caress, A Tender Kiss, Is Something I Can’t Miss, No I Can’t Miss
I’ve Gotta Know What’s Going On Why Don’t You Stop Crying Just Tell Me What Have I Done Wrong I’ve Never Been Lying You Know It’s True I Can’t Go OnLiving Without You ‘Cause I Know That ICan’t Live Without You Because I Love You
Banyak lagi sih LP Bee Gees, Beatles dan The Cats yang dipinjamkan untuk saya nikmati. Dan memang saya sangat menikmatinya! Sayang, kemudian Yanti harus pindah ke Bandung ketika kami memasuki kelas III SMP. Engga ada lagi deh teman yang bisa meminjamkan LPnya kepada saya!
Sampai setua ini, saya masih menyukai lagu-lagu Bee Gees dan the Cats itu. Dan kalau saya sedang mendengarnya, saya sering teringat teman kecilku si Yanti yang baik hati dan menyenangkan tersebut...
Ada seorang kawan lain di SMP yang juga sering meinjamkan LPnya kepada saya, tapi LP lagu-lagu Mandarin. Dari sia, saya mulai mebgenal lagu-lagu Mandarin yang bagi saya "lucu" kedengarannya, tapi membuat saya penasaran, ingin tahu apa arti lagu-lagu yang saya dengar itu.
Pendek kata, saat saya di tahun-tahun terakhir SD dan selama SMA adalah saat-saat otak saya menyerap banyak lagu asing! Lagu-lagu yang tidak sepenuhnya saya mengerti itu ternyata banyak menghibur saya saat saya harus melalui hari-hari libur seornag diri (saya kan anak perempuan yang tidak punya saudara kandung lain kecuali kakak laki-laki yang minatnya juga agak berbeda).
Setelah saya mulai mengerti sedikit-sedikit arti lagu-lagu dalam bahasa Inggris yang saya dengar, saya semakin menyukainya. Tiada hari tanpa lagu!! Kalau sebelumnya saya hanya berpegang pada irama lagu yang "sweet 'n easy", maka setelah saya mulai mengerti apa yang diucapkan penyanyi, saya terkesan dengan kedua-duanya: irama dan arti lyric lagu.
(Anak saya, Ananta, sejak bayi sudah terbiasa mendengar lagu-lagu yang saya putar. Dia akan menari seperti ini saat mendengar lagu)
Ketika penyakit hipertiroid menyerang saya di usia 42 tahun, dan saya amat sangat menderita, terutama karena efek buruk pada fisik yang terlihat jelas (wajah "menirus", tubuh sangat kurus-49 kg - untuk ukuran tinggi saya yang 160 cm).
Saya jadi jarang mau bercermin, karena melihat diri sendiri seperti "monster"!! Belum lagi rambut yang rontok menyeramkan.... hingga saya harus memakai wig kalau terpaksa harus pergi memenuhi undangan. Lebih sering tinggal di rumah daripada bepergian.
Dan karena depresi ini, hobby terhadap lagu pun seolah mati! Tidak mau lagi mendengar lagu, satu hal yang mustahil saya lakukan ketika saya masih sehat, dan tidak pernah berpikir bahwa suatu saat dalam hidup saya, akan ada peristiwa yang membuat saya tidak mau mendengar lagu lagi!
(Mulai terserang Hipertiroid tapi belum menyadarinya. Bobot tubuh mulai merosot tajam, dari 64 kg menjadi 56 kg saat gambar-gambar ini diambil, tahun 1997)
Berobat ke seorang dokter internist, saya diberitahu olehnya bahwa saya tidak seharusnya menderita hipertiroid yang biasanya berhubungan dengan stress dalam hidup, karena menurutnya, suami saya adalah suami yang baik, sangat perhatian, dan anak-anak saya pun menurut dugaannya adalah anak-anak yang baik.
Katanya: "Suami-istri yang baik, akan menghasilkan anak-anak yang baik pula".Saya sendiri bingung, mengapa saya sampai terserang hipertiroid sedangkan saya punya keluarga yang menjadi pusat kegembiraan dan kebahagiaan, dan........yang penting, hidup saya penuh lagu!
Berbicara lebih lanjut tentang penyebab penyakit tersebut yang kemudian membuat saya merasa menjadi orang yang tidak berguna lagi, dan hanya jadi beban suami, dokter menanyakan apa hobby saya. Langsung saya jawab: "Mendengarkan lagu-lagu!"
Dokter bilang, "Perbanyak lagi dengar lagu-lagu, lupakan hipertiroid, bayangkan saat-saat indah bersama suami dan keluarga. Obat sebanyak apapun tidak akan menyembuhkan kalau kita terpaku pada penyakit itu sendiri. Dapatkan kesenangan dari hobby ibu sebanyak-banyaknya".
Sejak itu, saya mencoba menghidupkan kembali hobby saya yang nyaris mati total...Didukung oleh keluarga, terutama my hubby, saya kembali bangkit. Bahkan ketika saya menjalani pengobatan radio-iodine selama belasan hari terisolir di kamar (benar-benar sendirian lho! Dan engga keluar-keluar kamar sama sekali), saya selalu ditemani oleh lagu-lagu yang diputar di Walkman (baru selanjutnya, saya menggunakan MP3 ketika alat ini mulai dipasarkan di Indonesia)
Selain banyak berdoa dan meditasi, benar sekali apa yang dikatakan dokter, ternyata mendengarkan lagu dan musik bukan hanya menyembuhkan raga yang sakit, tetapi juga hati dan perasaan saya menjadi lebih bahagia, tidak lagi cemas, takut, sedih dsb. Kondisi saya membaik jauh lebih cepat dari apa yang saya perkirakan sebelumnya.
Sekarang, hormon tiroid saya sudah dalam range normal. Kata dokter, "Jaga dengan musik dan lagu!"... Rambut saya kembali tumbuh, walaupun tidak pernah seperti semula (memang saya dilahirkan dengan rambut agak tipis dan halus)
Terapi lagu memang sudah saya buktikan sebagai terapi yang hebat, terutama untuk penyakit yang berhubungan dengan emosi, pikiran dsb. Setidaknya, saya mendapatkan hal positif dari lagu dan musik!Jantung saya tidak lagi berdetak tidak teratur dan cepat. Saat mendengar lagu, saya sendiri bisa merasakan ritme jantung yang wajar dan tenangnya pikiran.
Bee Gees dan The Cats serta lagu-lagu mereka jaman saya muda, masih tetap menjadi lagu-lagu yang paling sering saya putar. Bahkan ketika The Cats bubar! Beruntung, saya masih mempunyai lagu-lagunya yang saya rawat dengan baik.
Masih dalam keadaan sakit, hormon tiroid sudah menurun drastis tetapi masih belum sampai batas normal
Sangat bersyukur, semua anggota keluarga banyak memberikan dukungan selama saya sakit.
From me to you
Hi dear all,
There's a choice you have to make in everything you do.
You must always keep in mind that the choice you make in the end makes you.
30 Desember, 2008
Mungkinkah ibuku mengidap OCD?
Belum bisa dipastikan benar! Karena sampai dengan usianya yang sekarang ini (76 tahun bulan April 2009) belum pernah memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater.
OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder adalah satu "keadaan mental" yang tidak wajar, yang biasanya ditandai dengan munculnya pikiran-pikiran atau perasaan-perasaan tertentu secara INTRUSIF dan BERULANG-ULANG atau REPETITIF, seperti: - TAKUT atau Cemas yang berlebihan (misalnya, sangat takut kotor, takut terserang penyakit walaupun hanya sekedar flu, takut tangan kurang bersih walaupun sudah dicuci, menyeka tangan berulang-ulang setelah bersalaman dengan seseorang, menyeka pipi berulang kali yang dicium seseorang, dsb.) atau RAGU yang berlebihan (ragu, apakah pintu rumah ada yang belum dikunci ketika akan meninggalkan rumah, cemas apakah kompor atau kran air belum dimatikan dsb)
Melakukan suatu tindakan yang repetitif seperti berdehem (clear the throat) padahal tidak ada yang mengganggu di tenggorokannya, atau mengulang perkataan berkali-kali sepertinya orang yang diajak berbicara belum juga mengerti apa yang dia katakan, dsb.
Namun gejala-gejala tersebut tidak dengan serta merta memastikan bahwa orang tersebut positif mengidap OCD. Pada orang yang terindikasi mengidap, mereka menyadari bahwa apa yang ada dalam pikirannya adalah tidak nyata/salah sehingga berusaha melawannya. Hal tersebut tentu saja dapat menyebabkan stres karena terus-menerus dihantui oleh perasaan dan bayangannya.
Gangguan ini dapat menjadi semakin parah menjadi OCPD (Obsessive-Compulsive Personality Disorder), menganggap apa yang ada dalam pikirannya adalah benar/nyata sehingga perbuatan yang berlebihan (keanehan) atau ketidakwajaran yang dilakukannya tidak dianggap mengganggu, bahkan sebaliknya: ada kecenderungan menikmatinya!
Rasa jijiknya pada suatu kontaminasi (mysophobia) yang sangat berlebihan juga terlihat pada cairan yang keluar dari tubuh orang, misalnya air liur, keringat, lendir, muntah, air seni, atau juga feces (kotoran manusia).
Saya tahu benar, sebelum ibuku menjalankan rutinitasnya di kamar mandi, ia memerlukan waktu sekian lama untuk menyiram-nyiram kloset lagi serta lantai (walaupun baru saja dibersihkan oleh pembantu dengan menggunakan sabun dan pembersih tertentu). Barulah setelah ia merasa benar-benar "aman", ia akan merasa yakin untuk memulai rutinitasnya. Setelah selesai pun, ia akan memerlukan beberapa waktu lagi membersihkan kamar mandinya sebelum benar-benar keluar dari situ.
Saya tidak menemukan hal ini pada kakak dan adiknya.Saya dengar, ada penderita OCD yang sangat ekstrim: takut kalau sabun pembersih terkontaminasi oleh kotoran atau kuman. Sangat sulit bagi para penderita OCD untuk berada di tempat yang dianggapnya menjadi "sarangkotoran dan kuman", seperti bengkel, toilet umum atau toilet di rumah orang lain yang dikunjunginya, gudang penyimpanan barang-barang, dsb.
Sepanjang yang saya ingat (sejak saya TK atau SD), saya seringkali melihat ibuku ini bolak-balik ke "wastafel" untuk mencuci tangan, bahkan bukan setelah melakukan sesuatu yang membuat tangannya kotor.
Nenek pernah bercerita kepada saya, bahwa ketika ibuku masih bayi berusia 6 bulan, kedua kakinya akan ditekuk karena tidak mau didudukkan di atas "bale" (sebutan orang Sunda untuk tempat duduk-duduk atau tidur santai yang terbuat dari bambu), hanya karena bale tersebut terbuat dari bambu hitam, padahal kata nenek, bambu bale tersebut sudah sangat mengkilap, bersih. Tapi ibuku yang masih bayi tersebut memilih minta digendong sambil menangis karena menolak kakinya bersentuhan dengan bale hitam itu.
(ide digendong)
Boleh jadi, saat itu pun gejala OCD sudah mulai menyerang, tetapi karena nenek adalah orang kuno dan juga tidak pernah tahu tentang gangguan ini, maka beliau mungkin menganggapnya hal yang wajar saja dan tidak ada tindakan apapun untuk mengatasinya, hingga hal itu semakin berkembang seiring bertambahnya usia ibuku. Padahal selagi gejala tahap ringan itu mulai terlihat, ia dapat dilatih untuk meringankan ketidakwajaran tersebut.. atau bahkan mungkin bisa menghilangkannya.
Seharusnya, ketika ibuku sudah beranjak kanak-kanak dan remaja, bisa dilatih dengan cara paling sederhana, yaitu dengan mengajarinya membiasakan diri melawan kebiasaan-kebiasaan yang sering muncul tersebut secara bertahap. Tetapi ternyata semakin dewasa, kata nenek, ibuku semakin terlihat memiliki gejala-gejala takut kotor dan cemas yang "berlebihan" itu, dan sudah tidak bisa diubah lagi.
Yang lebih merepotkan lagi adalah, kalau ada benda miliknya jatuh ke lantai, halaman, atau jalan raya, ia tidak akan lagi memakainya, walaupun itu benda kesayangannya! Selain itu, benda-benda miliknya yang secara tidak disengaja bersentuhan dengan ban mobil, misalnya, tidak akan dipakainya kembali.
Lebih "hebat" lagi, kalau sebuah tasnya berisi banyak perlengkapan, termasuk obat-obatan, dan tas itu secara tidak sengaja ada yang meletakkannya di lantai atau di tempat-tempat yang dilalui sepatu/sandal orang, maka tas itu berikut isinya semua juga tidak akan pernah berkenan dipakainya kembali!!!
Pernah terjadi, ketika saya masih duduk di SMP, ia dan pembantu kami membersihkan lemari tempat perabot rumahtangganya yang eksklusif disimpan. Perabot itu konon belum pernah dipakainya sekali pun sejak ayahku membelikannya beberapa saat setelah mereka menikah! (Ini info dari ayahku sendiri).
Pembantu kami menemukan seekor cecak kering di antara tumpukan piring buatan Belanda yang indah itu. Mendadak sontak, begitu ia memperlihatkan cecak kering yang sudah entah berapa bulan mati di situ, ibuku langsung seperti kena teror... Dan ia mengatakan kepada pembantu kami itu: "Saya ngga mau lagi piring-piring itu ada disitu. Jijik!! Cepat keluarkan semua. Ambil saja buat kamu!"
Ayahku yang kebetulan duduk tidak jauh dari situ, dan saya sedang asyik menggambar, semeja dengan beliau, mengalihkan perhatian kami kepada ibuku yang tengah sibuk mengatasi rasa jijiknya... dan si pembantu yang kelihatan bengong mendengar apa yang dikatakan ibuku. Bagaimana tidak bengong, sebentar lagi dia akan mendapatkan perlengkapan makan yang mungkin dia sendiri tidak tahu bagaimana menggunakannya (jangan-jangan.... set perlengkapan makan itu kelak bahkan akan dijualnya!!) Mungkin saja!
Set yang terdiri dari piring makan, piring kue, cangkir, teko untuk kopi dan teh, tempat keju, serta 6 buah mangkuk sup bertelinga, yang sangat indah, buatan Belanda itu, segera dikeluarkan dari lemari (tentunya kemudian menjadi milik pembantu ibuku!). Lemari segera dibersihkan, tapi bagian itu tidak pernah digunakannya lagi, hanya diberi alas koran di tiap ambalannya serta kamper lemari.
Ayahku yang biasa dipanggil "kukuh" itu memang luar biasa sabarnya dan baiknya menghadapi kebiasaan ibuku yang biasa dipanggil "ide" itu. Seingat saya, ketika urusan membersihkan lemari itu selesai, kukuh menyampaikan perasaannya kepada saya: "Kukuh ingat, perlengkapan makan itu dibeli di toko De Son di Pasar Baru, beberapa waktu setelah menikah. Kukuh membelikan barang itu untuk ide sebagai hadiah perkawinan. Ide sendiri yang memilih. Tapi selama belasan tahun, tidak pernah sekalipun perlengkapan itu digunakan sebagai wadah makan pagi atau malam. Kukuh pikir, mungkin ide begitu menghargai dan sayang terhadap hadiah perkawinan itu sampai tidak tega memakainya. Tapi tidak disangka, sebegitu mudahnya ide 'membuang' barang itu, Setidaknya, memberikannya kepada orang yang belum tentu bisa menghargai set makan seperti itu!"
Untungnya, lemari itu tidak sampai "dibuang" atau diberikan kepada orang lain! Dibiarkan di tempatnya, tetapi tidak disentuhnya!
Seingat saya, bahkan sampai saya meninggalkan rumah tempat saya dilahirkan itu untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta, dan hingga saya sering menjenguknya bersama anak-anak saya, lemari bekas cecak kering itu tidak pernah dibukanya, apalagi digunakan untuk menempatkan barang lain! ~ Sebegitu merasa jijikkah beliau?
Pernah juga OCDnya ide ini sampai membuat dua orang berselisih berat.
Ia mempunyai pembantu yang sudah sangat dipercayanya, hampir sebaya dengannya, yang mulai bekerja pada keluarga kami ketika saya masih berusia 10 tahun. Suatu hari ketika saya mengunjungi ide di Serang bersama Nana (putri saya yang masih berusia 2 tahun ketika itu) serta seorang pembantu yang membantu mengasuh, kukuh memberikan sebuah boneka kucing yang bagus sekali kepada Nana. Saya yakin, saat itu (tahun1987), kukuh membeli boneka tersebut dengan harga mahal karena buatan Jepang (tertulis di labelnya), bukan buatan Korea, Taiwan, Hong Kong, atau Karawang (yang sekarang banyak memproduksi stuffed toys seperti itu)
Namanya juga anak-anak....
Nana memeluk boneka kucing itu dengan ekor yang menjuntai ke bawah. Ketika itu papanya akan pergi kerja dan kami mengantarnya menaiki mobil. Setelah papanya memeluk Wirya dan Nana yang ketika itu tangannya dituntun oleh pembantu kami, bersiap berangkatlah si papa.
Nana yang belum mengerti tentang "hati-hati", tidak peduli terhadap ekor kucingnya yang menyentuh ban mobil papa. Dengan bahasa bayinya, dia melambaikan tangan mengantar kepergian papanya. Peristiwa itu menarik perhatian ide.
Sementara perhatian kami kepada papa Nana yang akan berangkat kerja, perhatian ide justru kepada ekor kucing yang menyentuh ban sebelum ban berputar!
Tentu saja itu membuat ide "gerah"! Kami yang diceritakan apa yang dilihat ide, benar-benar tidak mengakui memperhatikannya. Ide mengatakan, "Nana, jangan pegang kucing itu lagi, nanti kulit Nana gatal-gatal, kena kuman dari ban mobil papa!"
Nana yang tidak mengerti apa-apa, tidak mau melepaskan kucing yang dipeluknya walaupun dibujuk. Lalu saya mengatakan kepada ide, "Nanti akan saya bawa ke laundry untuk dry-clean. Kumannya pasti mati!"
Tapi ide melarang, dan mengatakan bahwa sebaiknya boneka itu diberikan saja kepada Siti, pembantu saya yang mengasuh Nana. Dengan menangis, Nana "merelakan" kucing barunya itu diberikan kepada Siti, setelah ia dijanjikan untuk dibelikan yang baru!
Siti memang senang mendapat boneka itu karena ia mempunyai adik kecil di kampungnya, dan dia berencana memberikan kucing tersebut kepadanya kalau pulang Lebaran nanti. Nana dimandikan kembali atas perintah ide, yang bagi beliau akan mengusir kuman ban mobil yang mungkin sudah mengenai pakaian atau kulit Nana (karena boneka itu dipeluknya).
Setelah Nana selesai mandi, giliran Siti yang harus mandi bersih dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih.
Siapapun tidak menyangka, kalau kemudian kucing yang akan diberikan kepada adik si Siti akan menimbulkan recok antara pembantu ide (yang sudah lama bekerja itu) dengan Siti. Siti datang kepada saya setelah mandi dan bertukar pakaian sambil menangis. Saya tanya ada apa, katanya, "Saya minta maaf, bukan ga nerima boneka itu, tapi saya dimarahin si mbok, katanya saya penjilat, sampai nyonya ngasih boneka itu buat saya. Padahal si mbok kerja jauh lebih lama daripada saya."
Saya tanya, "Oh, apa si mbok kepengen boneka itu, Ti?"
Kata Siti,"Iya, katanya seharusnya nyonya kasih boneka itu kepada si mbok sebab si mbok paling lama kerja disini, dan dia punya cucu yang juga mau mainan seperti itu".
Terjadinya cekcok seperti itu, saya pikir, hanya karena OCD ide yang benar-benar berlebihan, dan ide tidak berpikir bahwa hal itu bisa berdampak pada rasa iri orang lain yang tidak mendapat "jatah" barang yang baginya sudah sangat menakutkan atau menjijikkan.
Bukan tidak mungkin, banyak orang lain yang "menyayangkan", mengapa barang-barang yang ingin dibuangnya itu "bukan dibuang ke 'dia', bukan ke 'aku'..
Jangankan orang lain, saya, anak ide sendiri, sering berharap ide memberikan barang-barang yang 'berkuman' itu kepada saya, dan sudah saya katakan berkali-kali dalam banyak peristiwa serupa. Tetapi ide mengatakan "JANGAN!" dengan alasan, nanti saya yang terkena kuman dan kulit saya akan berpenyakit.
Orang lain berpenyakit kulit karena diberikan barang berkuman itu, rupanya tidak menjadi masalah, karena mereka tidak pernah menyentuh ide...
Banyak hal semacam itu terjadi pada ide. Walaupun sudah memahami apa yang dideritanya, kadangi masih juga OCDnya membuat orang-orang yang mencintainya heran dan tidak habis pikir, mengapa sedemikian jijiknya ibuku ini terhadap hal yang dianggap "bisa dicuci", "bisa dibersihkan", "bisa diseka", dsb. kalau ada benda miliknya "non-food" yang jatuh, dan tidak serta-merta diberikan kepada orang lain, seolah tidak mau lagi melihat benda malang tersebut.
Saputangan-saputangannya yang indah-indah sudah banyak yang berpindah tangan ke pembantu-pembantunya, karena seringkali ketika ide "membalik jemuran", saputangan itu jatuh, saking kering dan ringannya!
Hingga kini, ide masih seperti ini. Tidak ada yang bisa mengingatkannya bahwa setiap benda yang jatuh, bisa dibersihkan, bahkan kalau perlu dengan alkohol, jadi tidak selalu harus 'dibuang" kepada pembantu yang belum tentu menghargai benda-benda itu...
Apakah ini benar-benar OCD atau bukan (tidak pernah minta konfirmasi dari seorang psikolog atau psikiater), kami semua selalu berusaha untuk mengerti dan menerima kebiasaan ide itu yang ia sendiri tidak mau merubahnya.
Walaupun kemungkinan ia menikmati OCD-nya tetapi tidak bisa dipungkiri juga bahwa hidupnya banyak mengalami stres karena kebiasaannya itu sendiri, terutama jika orang-orang di sekitar hidupnya tidak mau memperhatikan kebersihan dan kerapian.